VISI | Nyinyir!
Mereka boleh nyinyir, tapi kita tetap menulis. Mereka boleh nyinyir, tapi kita tetap mengajar dengan hati. Mereka boleh nyinyir, tapi kita tetap membimbing anak-anak dengan cinta. Karena kebaikan tidak perlu banyak bicara, cukup terus dikerjakan.
Lucunya, nyinyiran sering kali muncul bukan karena kita gagal, tapi justru karena kita mulai berdampak. Saat kita biasa-biasa saja, nyaris tak ada yang peduli. Tapi saat kebaikan kita mulai terlihat, maka komentar negatif mulai muncul. Itu artinya, kita sedang menggoyang zona nyaman orang lain, dan itu adalah tanda bahwa apa yang kita lakukan bermakna.
Dalam sudut pandang ini, nyinyir bisa jadi alat ukur. Semakin nyinyir orang terhadap kita, semakin besar peluang kita untuk memberi dampak lebih luas. Maka jangan takut, teruslah berkarya. Bahkan, kita boleh bersyukur jika ada yang nyinyir, karena itu berarti kita diperhatikan, dan punya pengaruh.
Mari kita ajarkan pada peserta didik bahwa hidup bukan tentang menyenangkan semua orang. Bahwa setiap langkah menuju kebaikan selalu ada tantangan. Salah satunya adalah komentar sinis, pandangan merendahkan, atau cibiran tanpa dasar.
Namun, jika mereka paham nilai dari konsistensi, dari keteguhan niat, dan dari kerja keras, maka tak satu pun nyinyiran bisa mematahkan semangat mereka. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang mudah baper (bawa perasaan), tapi generasi yang tangguh menghadapi kenyataan.
Karena itu, kita sebagai pendidik harus menjadi contoh. Jangan ikut nyinyir, jangan ikut mematikan semangat orang lain, tapi mari kita jadi pendukung aktif semua kebaikan yang lahir di sekitar kita. Jadilah penopang, bukan penghalang. Jadilah penyemangat, bukan pengejek. Jadilah penebar kebaikan, meski di sekeliling kita hanya nyinyiran. Semakin mereka nyinyir, semakin kita asyik berkebaikan.
Yu, kita awali dengan menabur kebajika, abaikan nyinyiran.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!