VISI | Nyinyir!
Padahal yang dilakukan bisa jadi adalah upaya sungguh-sungguh, murni, dan dengan niat baik. Namun budaya nyinyir tak memberi ruang untuk apresiasi. Ia mengendap di balik rasa dengki, iri, atau ketidakmampuan untuk ikut berbuat. Yang lebih menyedihkan, orang-orang yang nyinyir ini justru tidak menawarkan solusi, bahkan tidak bergerak sedikit pun.
Lebih bahaya lagi jika nyinyir berasal dari orang berpengaruh, seorang pemimpin, tokoh, atau elite politik. Kata-katanya akan menjadi pembenaran, dicontoh oleh pengikutnya, dan memperkuat budaya destruktif. Maka tak heran jika anak-anak muda menjadi apatis, takut tampil, takut berprestasi, karena takut disindir atau dijadikan bahan olokan.
Sebagai seorang guru yang telah mengabdi puluhan tahun, saya sering menjumpai kasus serupa. Seorang siswa yang rajin, tampil percaya diri, aktif dalam organisasi, tak jarang dianggap sok pintar. Guru yang penuh inisiatif, yang membuat program-program literasi, inovasi pembelajaran, atau menulis di media, juga tak luput dari komentar sinis dari rekan sejawat.
“Biasa, cari muka sama kepala sekolah.” “Paling juga mau naik pangkat.” “Udah kayak dosen aja gaya ngajarnya.”
Apakah mereka salah? Tidak. Yang salah adalah budaya tidak mendukung yang baik. Ini menunjukkan betapa dunia pendidikan yang seharusnya menjadi lahan tumbuhnya apresiasi, justru ikut tercemar oleh budaya nyinyir. Jika tidak diwaspadai, sekolah bisa menjadi tempat yang justru mematikan semangat, bukan memeliharanya.
Di tengah dunia yang penuh sinisme, berbuat baik adalah tindakan revolusioner. Karena itu, setiap individu yang ingin menciptakan perubahan harus siap dengan ujian. Salah satunya: nyinyiran. Maka, kita tidak perlu menjawab semua komentar sinis itu. Jawaban terbaik dari nyinyir adalah konsistensi. Tetap melakukan kebaikan, tetap tersenyum, tetap memberikan dampak.
Seperti kata pepatah, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Kita tidak bisa menghentikan setiap orang yang nyinyir, tapi kita bisa terus melangkah dan menunjukkan bahwa niat baik kita bukan untuk pamer, tapi untuk berbagi manfaat. Biarlah waktu dan hasil kerja kita yang berbicara.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!