VISI | NU dan Habib: Ketegangan di Persimpangan Sejarah

ED
Rabu, 26 November 2025 | 15:24 WIB
Bagikan
VISI | NU dan Habib: Ketegangan di Persimpangan Sejarah

Oleh Aep S. Abdullah

POLEMIK terkait hubungan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan kalangan Habib memang bukan isu baru. Namun, belakangan ini, ketegangan tersebut mencapai puncaknya. Terlebih setelah desakan agar Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), untuk mundur dari jabatannya dalam tempo tiga hari setelah keluarnya surat edaran dari . Desakan ini mencuat setelah kontroversi mengenai kehadiran seorang narasumber berdarah Israel dalam acara yang digelar oleh NU. Isu ini mengarah pada kritik terhadap keterkaitannya dengan jaringan Zionisme Internasional, yang tidak hanya mengganggu soliditas internal NU, tetapi juga membingungkan banyak pihak mengenai arah dan nilai yang selama ini dipegang teguh oleh organisasi terbesar umat Islam Indonesia ini. Setelah batas "ultimatum" tersebut hari ini, Rabu (26/11/2025), Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, akan memimpin sementara organisasi terbesar umat Islam Indonesia tersebut setelah posisi Ketua Umum PBNU yang sebelumnya dijabat oleh Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) kini dianggap kosong. Keputusan ini tercantum dalam Surat Edaran Nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 yang ditandatangani Wakil Rais Aam PBNU Afifuddin Muhajir dan Katib PBNU Ahmad Tajul Mafakhir.

Surat tersebut menyatakan bahwa selama kekosongan jabatan Ketua Umum PBNU, kepemimpinan organisasi sepenuhnya akan berada di bawah kendali Rais Aam selaku pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama. "Dengan ini, kepemimpinan PBNU untuk sementara waktu akan dipegang oleh Rais Aam, sebagai pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama," demikian bunyi surat tersebut.

Peran dan pengaruh kalangan Habib dalam struktur PBNU semakin terasa. Mereka menduduki posisi-posisi penting dalam pengurus NU, bahkan konon katanya hingga sembilan dari posisi strategis yang mengendalikan pergerakan organisasi ini. Para Habib, sebelum polemik mencuat, dikenal memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW, sering kali dianggap sebagai figur yang memiliki kedudukan khusus dalam masyarakat, termasuk di kalangan Nahdliyin. Hubungan erat antara PBNU dan kalangan Habib ini telah menciptakan dinamika yang sangat mempengaruhi kebijakan dan arah gerakan NU.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.