VISI | NU dan Habib: Ketegangan di Persimpangan Sejarah
Oleh Aep S. Abdullah
POLEMIK terkait hubungan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan kalangan Habib memang bukan isu baru. Namun, belakangan ini, ketegangan tersebut mencapai puncaknya. Terlebih setelah desakan agar Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), untuk mundur dari jabatannya dalam tempo tiga hari setelah keluarnya surat edaran dari . Desakan ini mencuat setelah kontroversi mengenai kehadiran seorang narasumber berdarah Israel dalam acara yang digelar oleh NU. Isu ini mengarah pada kritik terhadap keterkaitannya dengan jaringan Zionisme Internasional, yang tidak hanya mengganggu soliditas internal NU, tetapi juga membingungkan banyak pihak mengenai arah dan nilai yang selama ini dipegang teguh oleh organisasi terbesar umat Islam Indonesia ini. Setelah batas "ultimatum" tersebut hari ini, Rabu (26/11/2025), Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, akan memimpin sementara organisasi terbesar umat Islam Indonesia tersebut setelah posisi Ketua Umum PBNU yang sebelumnya dijabat oleh Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) kini dianggap kosong. Keputusan ini tercantum dalam Surat Edaran Nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 yang ditandatangani Wakil Rais Aam PBNU Afifuddin Muhajir dan Katib PBNU Ahmad Tajul Mafakhir.Surat tersebut menyatakan bahwa selama kekosongan jabatan Ketua Umum PBNU, kepemimpinan organisasi sepenuhnya akan berada di bawah kendali Rais Aam selaku pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama. "Dengan ini, kepemimpinan PBNU untuk sementara waktu akan dipegang oleh Rais Aam, sebagai pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama," demikian bunyi surat tersebut.
Peran dan pengaruh kalangan Habib dalam struktur PBNU semakin terasa. Mereka menduduki posisi-posisi penting dalam pengurus NU, bahkan konon katanya hingga sembilan dari posisi strategis yang mengendalikan pergerakan organisasi ini. Para Habib, sebelum polemik mencuat, dikenal memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW, sering kali dianggap sebagai figur yang memiliki kedudukan khusus dalam masyarakat, termasuk di kalangan Nahdliyin. Hubungan erat antara PBNU dan kalangan Habib ini telah menciptakan dinamika yang sangat mempengaruhi kebijakan dan arah gerakan NU.
Namun, di tengah situasi yang berkembang ini, Gus Yahya terkesan tidak bisa bersikap tegas. Meski memiliki visi dan misi yang cukup jelas mengenai pentingnya menjaga keberagaman dan kebangsaan, Gus Yahya kesulitan mengelola ketegangan yang muncul akibat pengaruh Habib. Lingkungan di sekitar Gus Yahya, yang banyak didominasi oleh tokoh-tokoh pengikut Habib, seolah menjadi penghalang bagi kebijakan yang lebih netral atau bahkan yang tegas menentang pengaruh mereka. Ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengurus Wilayah (PWNU) dan Cabang (PCNU) di daerah, yang merasa bahwa NU kini telah mengalami pergeseran besar dalam struktur kepemimpinan. Pada awalnya, NU dikenal dengan sistem kolektif kolegial yang memprioritaskan musyawarah dan keputusan bersama. Namun, saat ini, tampaknya ada pergeseran dari pola kolektif kolegial tersebut menuju dominasi kelompok ini, yang perlahan menggeser peran pengurus lainnya. Pada titik ini, kesan bahwa NU kini berada di bawah kendali mereka semakin sulit dibantah. Bahkan, beberapa kalangan menyebutkan bahwa beberapa kebijakan yang diambil oleh PBNU lebih mengarah pada kepentingan kelompok tertentu, daripada untuk kepentingan umat Islam secara keseluruhan. Bagi sebagian kalangan Nahdliyin, peran Habib di PBNU bukanlah hal yang aneh. Mengingat sejarah panjang hubungan NU dengan "keluarga besar" Nabi Muhammad, wajar jika para Habib mendapat tempat khusus dalam struktur organisasi ini. Bahkan, dalam konteks budaya Islam Indonesia, posisi mereka sering dianggap sebagai pemimpin spiritual yang memiliki hak untuk memimpin dan membimbing umat. Namun, situasi yang berkembang belakangan ini menunjukkan bahwa pengaruh kalangan Habib dalam kepemimpinan PBNU telah melewati batasan yang seharusnya. Pergeseran ini semakin terasa ketika kita melihat posisi-posisi strategis di PBNU yang kini diisi oleh orang-orang dari kalangan Habib. Sebut saja, sembilan posisi penting itu yang kini berada di tangan mereka. Posisi-posisi ini tidak hanya memiliki kekuasaan administratif, tetapi juga berperan besar dalam menentukan arah gerakan NU ke depan. Pengaruh ini bahkan dirasakan oleh pengurus daerah yang mulai mempertanyakan arah dan kebijakan PBNU. Salah satu dampak dari dominasi ini adalah munculnya ketidaknyamanan di kalangan pengurus PWNU dan PCNU di daerah. Banyak yang merasa bahwa pengambilan keputusan yang seharusnya melibatkan musyawarah bersama, kini lebih dipengaruhi oleh keinginan segelintir orang dari kalangan Habib. Hal ini menimbulkan ketegangan antara mereka yang menginginkan kembalinya sistem kolektif kolegial dan mereka yang merasa bahwa pengaruh Habib adalah hal yang wajar, bahkan penting, dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai NU. Ketidakpastian ini semakin diperburuk dengan polemik yang muncul terkait dengan kehadiran narasumber yang memiliki latar belakang Israel di acara NU. Meski Gus Yahya dan PBNU mencoba untuk menjelaskan bahwa acara tersebut adalah bagian dari upaya untuk mempererat hubungan antarumat beragama dan menjaga kerukunan, namun polemik ini tidak bisa dianggap remeh. Di tengah situasi yang penuh dengan dinamika politik internal, keputusan ini justru semakin menambah keruh situasi internal NU. Namun, kalau benar ada agenda tersembunyi di balik desakan pemakzulan Gus Yahya, maka pengurus lainnya di internal PBNU dan warga Nahdliyin harus lebih melek. Isu yang lebih besar dari polemik ini adalah apakah ada pihak-pihak yang berusaha memanfaatkan NU untuk kepentingan tertentu. Mengingat bahwa PBNU adalah ormas terbesar di Indonesia, pengaruhnya dalam menentukan arah politik dan sosial sangat besar. Ketika sebuah ormas seperti NU dilibatkan dalam politik praktis atau dipengaruhi oleh agenda-agenda tersembunyi, maka yang dirugikan adalah integritas dan marwah NU itu sendiri. Polemik Habib juga belum sepenuhnya menjawab pertanyaan publik yang meragukan keabsahan mereka sebagai keturunan Rasulullah SAW. Meskipun dalam tradisi Islam, Habib memiliki kedudukan istimewa sebagai keturunan Nabi Muhammad, pertanyaan mengenai kebenaran garis keturunan mereka tetap menjadi polemik. Selama ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah terjawab dengan jelas, dan justru banyak yang merasa bahwa sebagian kalangan Habib "berlindung" atau menggunakan "tameng" NU untuk memperkuat posisi mereka, yang dapat menimbulkan persepsi negatif di kalangan warga NU. Peran Habib dalam kepengurusan PBNU tidak dapat dipandang sepenuhnya positif. Terlepas dari kedudukan mereka sebagai keturunan Rasulullah, jika mereka menggunakan posisinya untuk memperjuangkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, hal ini bisa berbahaya bagi NU. Apalagi, jika mereka mencoba membawa NU ke dalam pertarungan politik yang tidak sejalan dengan prinsip dasar organisasi ini, maka hal tersebut dapat memecah belah warga Nahdliyin dan mengarah pada gejolak internal yang lebih besar. Sebagai ormas yang inklusif dan berbasis pada tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), NU harus lebih bijak menyikapi masalah ini. Jangan sampai organisasi yang selama ini dikenal sebagai rumah besar umat Islam ini terjebak dalam kepentingan politik kelompok tertentu. Jangan sampai NU diseret untuk menghantam kelompok Nahdliyin yang meragukan keabsahan Habib sebagai duriat Rasulullah. Masalah ini harus diselesaikan dengan baik agar tidak menimbulkan gejolak lebih besar yang berpotensi merusak keharmonisan umat. Ke depan, Gus Yahya dan pengurus PBNU harus mampu menyelesaikan masalah ini dengan cara yang adil dan bijaksana. Tidak ada yang lebih penting bagi NU selain menjaga integritas dan marwahnya sebagai ormas yang berjuang untuk umat Islam dan negara. Gus Yahya perlu menunjukkan kepemimpinan yang lebih tegas dalam menghadapi masalah ini, sekaligus memastikan bahwa semua pihak, baik yang pro maupun kontra, merasa didengar dan dihargai. Sebagai organisasi yang mengusung prinsip kolektif kolegial, NU tidak boleh terjebak dalam dominasi satu kelompok atau keluarga tertentu. Semua keputusan harus melibatkan musyawarah dan kesepakatan bersama, dengan mengedepankan kepentingan umat secara keseluruhan. Tidak ada tempat untuk politik identitas atau penggunaan kekuasaan untuk kepentingan kelompok atau individu tertentu. Jika hal ini tidak diselesaikan dengan baik, NU berisiko kehilangan arah dan nilai-nilai luhur yang selama ini dijunjung tinggi. Tantangan terbesar bagi Gus Yahya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, antara keberagaman internal NU dan pengaruh luar yang terus berkembang. NU harus tetap menjadi rumah besar bagi seluruh umat Islam di Indonesia, bukan menjadi tempat bagi segelintir orang untuk mengejar kepentingan pribadi. Ini adalah ujian besar bagi PBNU dan para pengurusnya untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai Aswaja, kebangsaan, dan keislaman yang telah menjadi landasan NU selama ini. Pada akhirnya, NU harus tetap berada di tengah-tengah umat, menjaga kerukunan, dan berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara. Organisasi ini tidak boleh terpecah belah akibat persoalan internal yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan musyawarah dan hikmah. Jika NU mampu melewati ujian ini dengan bijaksana, maka ia akan terus menjadi pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia. Polemik yang terjadi dalam tubuh PBNU adalah ujian bagi Gus Yahya untuk memastikan bahwa NU tetap berada di jalur yang benar. Tanpa tegas menghadapi pengaruh kelompok tertentu, NU berisiko kehilangan arah. Namun, jika dapat mengelola keragaman ini dengan bijaksana, NU akan tetap menjadi pilar utama dalam menjaga keutuhan bangsa dan umat Islam Indonesia.***Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!