Oleh Sunhaji
- Guru Besar bidang Ilmu Pengelolaan dan Pembelajaran
- Wakil Rektor 3 UIN Saizu Purwokerto
Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan sebuah perjumpaan eksistensial antara manusia dengan manusia. Dalam perspektif filsafat pendidikan humanistik, sebagaimana dikemukakan oleh Paulo Freire, pendidikan adalah dialog yang membebaskan, bukan monolog yang menindas. Mendidik dengan cinta, dalam kerangka ini, tidak dapat dipahami semata sebagai metode teknis, tetapi sebagai sikap batin yang berakar pada kesadaran moral pendidik. Cinta menjadi landasan etis yang mengarahkan seluruh praktik pendidikan menuju penghormatan terhadap martabat manusia. Tanpa cinta, pendidikan berpotensi berubah menjadi mekanisme kekuasaan yang kering dan represif. Oleh karena itu, mendidik dengan cinta merupakan pilihan nilai yang menentukan arah kemanusiaan pendidikan. Pilihan ini menempatkan peserta didik sebagai subjek, bukan objek pembelajaran.
Dalam psikologi pendidikan, pandangan ini sejalan dengan teori humanistik Abraham Maslow yang menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar manusia sebelum mencapai aktualisasi diri. Rasa aman, diterima, dan dicintai merupakan prasyarat utama agar peserta didik mampu berkembang secara optimal. Pendidikan yang mengabaikan dimensi emosional cenderung gagal menyentuh potensi terdalam peserta didik. Mendidik dengan cinta berarti menciptakan lingkungan belajar yang memenuhi kebutuhan psikologis tersebut. Ketika cinta hadir, ruang kelas berubah menjadi ruang pertumbuhan, bukan ruang ketakutan. Guru tidak lagi menjadi figur otoriter, melainkan fasilitator perkembangan. Dalam konteks ini, cinta berfungsi sebagai energi transformasional dalam pendidikan.
Memanusiakan Manusia
Mendidik dengan cinta juga berarti memandang peserta didik sebagai manusia utuh yang memiliki kompleksitas emosi, latar belakang sosial, dan pengalaman hidup yang beragam. Teori pendidikan progresif John Dewey menegaskan bahwa pendidikan harus berangkat dari pengalaman nyata peserta didik. Pendekatan yang berlandaskan cinta mendorong pendidik untuk memahami konteks kehidupan murid, bukan sekadar menilai hasil akademiknya. Dengan demikian, proses pendidikan menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Murid merasa diakui keberadaannya, bukan sekadar keberhasilannya. Pengakuan ini menumbuhkan rasa percaya diri dan keterlibatan aktif dalam belajar. Pendidikan yang manusiawi hanya mungkin lahir dari relasi yang penuh empati.