VISI | Menata Ulang Integritas: Alarm Serius Menuju Indonesia Emas

ED
Sabtu, 13 Desember 2025 | 04:51 WIB
Bagikan
VISI | Menata Ulang Integritas: Alarm Serius Menuju Indonesia Emas
  • “Peringatan HAKORDIA mengingatkan kita bahwa integritas adalah alarm bangsa. Tanpa pembenahan sistem dan mental, Indonesia Emas 2045 hanya tinggal slogan.”

Oleh A. Rusdiana

  • Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
  • Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
  • Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
  • Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan 

PERINGATAN Hari Anti Korupsi Sedunia (HAKORDIA) setiap 9 Desember seharusnya tidak berhenti pada slogan, seremoni, atau unggahan kampanye. Ia adalah alarm keras yang mengetuk kesadaran publik: korupsi masih hidup, masih berkembang, dan masih mengancam masa depan Indonesia. Jika bangsa ini benar-benar serius ingin menyongsong Indonesia Emas 2045, maka integritas bukan hanya wacana moral, tetapi agenda pembangunan nasional yang paling mendesak.

Dalam beberapa bulan terakhir, publik kembali dikejutkan oleh berbagai kasus korupsi, termasuk dugaan pemotongan dana pendidikan dan penyimpangan bantuan sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia tidak hanya terjadi di gedung-gedung kekuasaan, tetapi beranak di level operasional: pengelolaan bantuan, administrasi sekolah, pelayanan publik, hingga struktur birokrasi kecil yang seharusnya menjadi garda depan pelayanan negara.

Pertanyaannya: mengapa praktik ini terus berulang? Jawabannya sederhana tetapi pedih karena sistem kita masih lemah, dan budaya integritas belum benar-benar tumbuh sebagai kesadaran bersama.

Integritas Bukan Seremonial, tetapi Kecakapan Hidup

Secara teoretis, kerangka Good Governance menekankan transparansi, akuntabilitas, rule of law, dan partisipasi publik sebagai empat tiang integritas negara. Namun realitas membuktikan bahwa pilar ini belum berdiri kokoh. Sebagian daerah masih gagap digitalisasi, sebagian lembaga masih menggunakan prosedur kertas yang rentan manipulasi, dan sebagian aparatur masih menganggap integritas hanya sebatas mematuhi aturan, bukan keputusan moral.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.