VISI | Menata Ulang Integritas: Alarm Serius Menuju Indonesia Emas
- “Peringatan HAKORDIA mengingatkan kita bahwa integritas adalah alarm bangsa. Tanpa pembenahan sistem dan mental, Indonesia Emas 2045 hanya tinggal slogan.”
Oleh A. Rusdiana
- Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
- Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
- Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
- Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan
PERINGATAN Hari Anti Korupsi Sedunia (HAKORDIA) setiap 9 Desember seharusnya tidak berhenti pada slogan, seremoni, atau unggahan kampanye. Ia adalah alarm keras yang mengetuk kesadaran publik: korupsi masih hidup, masih berkembang, dan masih mengancam masa depan Indonesia. Jika bangsa ini benar-benar serius ingin menyongsong Indonesia Emas 2045, maka integritas bukan hanya wacana moral, tetapi agenda pembangunan nasional yang paling mendesak.
Dalam beberapa bulan terakhir, publik kembali dikejutkan oleh berbagai kasus korupsi, termasuk dugaan pemotongan dana pendidikan dan penyimpangan bantuan sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia tidak hanya terjadi di gedung-gedung kekuasaan, tetapi beranak di level operasional: pengelolaan bantuan, administrasi sekolah, pelayanan publik, hingga struktur birokrasi kecil yang seharusnya menjadi garda depan pelayanan negara.
Pertanyaannya: mengapa praktik ini terus berulang? Jawabannya sederhana tetapi pedih karena sistem kita masih lemah, dan budaya integritas belum benar-benar tumbuh sebagai kesadaran bersama.
Integritas Bukan Seremonial, tetapi Kecakapan Hidup
Secara teoretis, kerangka Good Governance menekankan transparansi, akuntabilitas, rule of law, dan partisipasi publik sebagai empat tiang integritas negara. Namun realitas membuktikan bahwa pilar ini belum berdiri kokoh. Sebagian daerah masih gagap digitalisasi, sebagian lembaga masih menggunakan prosedur kertas yang rentan manipulasi, dan sebagian aparatur masih menganggap integritas hanya sebatas mematuhi aturan, bukan keputusan moral.
Padahal, integritas adalah kecakapan hidup. Ia tidak lahir dari ketakutan pada hukuman, tetapi dari kesadaran moral yang matang. Teori Moral Development Lawrence Kohlberg menegaskan bahwa perilaku antikorupsi lahir dari nilai internal bukan dari sekadar takut terciduk kamera pengawas.
Karena itu, pembenahan integritas harus dimulai dari hulu, yaitu pendidikan. Salah satu praktik baik hadir dari kampus-kampus keagamaan dan pendidikan di Jawa Barat, termasuk Mata Kuliah Manajemen Anti Korupsi di Jurusan MPI S1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang sudah berjalan sejak tahun 2000. Fakta ini membantah anggapan bahwa pendidikan antikorupsi adalah agenda baru; ia telah memiliki landasan akademik yang lama, kuat, dan sistematis.
Digitalisasi dan Transparansi: Benteng Baru Melawan Korupsi
Indonesia membutuhkan sistem yang tidak memberi ruang bagi manipulasi. Layanan digital mulai dari e-budgeting, e-audit, digitalisasi bantuan, hingga open data harus menjadi standar nasional. Sistem yang otomatis, terekam, dan dapat dilacak akan mempersempit ruang transaksi gelap yang selama ini tumbuh di celah prosedur manual.
Namun digitalisasi saja tidak cukup. Tanpa integritas manusia yang mengoperasikannya, teknologi bisa disalahgunakan. Karena itu, strategi ideal adalah kombinasi sistem yang kuat dan karakter yang matang.
2045 Bukan Soal Waktu, tetapi Soal Keseriusan
Indonesia Emas 2045 sering dibayangkan sebagai masa kejayaan ekonomi dan teknologi. Tetapi tidak banyak yang berani bertanya: apakah kita punya integritas untuk sampai ke sana?
Tanpa perbaikan budaya antikorupsi, bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi. Sebaliknya, jika generasi muda dibentuk dengan disiplin moral, literasi digital, dan kecakapan etis, maka mereka akan menjadi penjaga integritas bangsa.
Penutup: Alarm Sudah Berbunyi
HAKORDIA 9 Desember bukan ritual tahunan; ia adalah suara peringatan. Jika kita tidak menata ulang integritas hari ini di kelas, kantor pelayanan publik, ruang digital, dan ruang kepemimpinan, maka 2045 hanya akan menjadi slogan kosong. Indonesia Emas hanya mungkin terwujud jika integritas menjadi budaya bersama. Alarm sudah berbunyi. Tinggal kita memilih: bangun atau kembali tidur. Wallahu A’lam.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!