VISI | Menata Negeri dengan Literasi
Oleh Drajat
BERBICARA pendidikan berarti berbicara tentang peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar selalu tumbuh beriringan dengan kemajuan pendidikan. Sebaliknya, ketika pendidikan suatu bangsa terabaikan, maka peradaban pun ikut meredup, tertinggal, bahkan lenyap dari panggung dunia.
Indonesia, negeri yang kita cintai, sejatinya memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa maju. Sumber daya alamnya melimpah, jumlah penduduknya besar, budayanya beragam, dan posisinya strategis di mata dunia. Namun, ada satu persoalan mendasar yang masih menghambat langkah besar itu: literasi.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi adalah kemampuan memahami, mengkritisi, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat. Literasi juga mencakup kemampuan menulis, menyampaikan ide, hingga membangun dialog yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat.
Bangsa yang literat adalah bangsa yang beradab. Dengan literasi, masyarakat mampu berpikir kritis, tidak mudah terjebak hoaks, mampu menghargai perbedaan, dan mampu menciptakan inovasi. Tanpa literasi, bangsa akan gagap menghadapi perkembangan zaman, apalagi di era teknologi informasi seperti sekarang.
Sayangnya, literasi kita masih tertinggal jauh. Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan OECD pada 2022 menempatkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 81 negara dalam kemampuan membaca. Artinya, kita berada di urutan 10 terbawah dunia. Bahkan, dalam laporan Bank Dunia, kemampuan literasi anak-anak Indonesia disebut masih jauh di bawah rata-rata.
Yang lebih menyedihkan, literasi di negeri ini sering kali hanya menjadi jargon. Banyak program dicanangkan, banyak kegiatan dilaksanakan, tetapi esensi literasi sering tidak menyentuh akar persoalan.
Ada sekolah yang mengklaim sebagai “Sekolah Literasi” hanya karena siswanya diwajibkan membaca lima belas menit sebelum pelajaran dimulai. Padahal, setelah bel berbunyi, kegiatan itu berhenti begitu saja, tanpa ada proses refleksi atau tindak lanjut. Ada pula pejabat atau tokoh yang berbicara lantang tentang pentingnya literasi, bahkan ikut serta dalam berbagai seminar literasi, tetapi dirinya sendiri jarang membaca, apalagi menulis.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!