VISI | Menata Negeri dengan Literasi
Lebih ironis lagi, tidak sedikit yang bangga menjadi “tim penilai literasi”, padahal belum memiliki karya nyata. Ada yang suka memakai seragam bertema literasi, tetapi sekadar untuk gaya. Ada pula yang mewajibkan siswa membaca, padahal dirinya sendiri malas membuka buku. Jika demikian, bagaimana mungkin literasi tumbuh subur di negeri ini?
Literasi sejati tidak lahir dari slogan, melainkan dari teladan. Jika seorang guru rajin membaca dan menulis, maka siswanya akan mengikuti jejaknya. Jika seorang pemimpin daerah suka membaca, maka budaya literasi di wilayahnya akan hidup. Jika orang tua di rumah gemar berdiskusi dan menyediakan buku, maka anak-anak akan tumbuh mencintai pengetahuan.
Ketika literasi diabaikan, bangsa ini sejatinya kehilangan jati diri. Lihatlah bagaimana budaya instan kian mengakar. Banyak orang lebih suka mencari jawaban cepat di mesin pencari ketimbang membaca buku. Banyak pula yang lebih senang menghabiskan waktu di media sosial ketimbang berdiskusi tentang gagasan.
Akibatnya, kita mudah terprovokasi, gampang terpecah belah, dan sering sulit membedakan antara fakta dan opini. Padahal, bangsa yang maju bukanlah bangsa yang gaduh karena berita bohong, melainkan bangsa yang tenang karena warganya terbiasa berpikir kritis.
Bangsa yang tidak literat akan terus bergantung pada bangsa lain. Kita hanya akan menjadi pasar, bukan produsen. Kita hanya akan menjadi konsumen, bukan pencipta. Padahal, sejarah mencatat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menulis kisahnya sendiri, bukan sekadar menjadi catatan kaki dalam sejarah bangsa lain.
Bagaimana caranya menata negeri dengan literasi? Pertama, mulai dari teladan. Guru, dosen, pejabat, orang tua, semua harus menunjukkan kecintaan pada membaca dan menulis. Tidak cukup hanya menyuruh siswa membaca, tetapi tunjukkan bahwa kita pun membaca. Tidak cukup hanya mengajak anak menulis, tetapi buktikan bahwa kita pun menulis.
Kedua, sediakan akses yang merata. Di banyak pelosok negeri, buku masih menjadi barang mewah. Perpustakaan sekolah ada, tetapi koleksinya minim, bahkan kadang hanya jadi pajangan. Pemerintah harus serius memperkuat infrastruktur literasi, dari perpustakaan digital hingga pojok baca di desa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!