VISI | Menata Negeri dengan Literasi
Ketiga, jadikan literasi bagian dari budaya, bukan sekadar program. Literasi tidak boleh berhenti di ruang kelas. Literasi harus menjadi gaya hidup: di rumah, di sekolah, di tempat kerja, bahkan di ruang publik. Membaca buku di taman, berdiskusi di warung kopi, atau menulis di media sosial dengan santun adalah bentuk nyata membudayakan literasi.
Keempat, literasi harus diarahkan pada produktivitas. Membaca saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan menulis dan berkarya. Anak-anak kita perlu didorong untuk menghasilkan karya tulis, artikel, puisi, bahkan buku sejak dini. Dengan begitu, mereka akan terbiasa mengekspresikan diri sekaligus menyumbangkan gagasan untuk bangsanya.
Menata negeri dengan literasi bukan pekerjaan semalam. Ini adalah kerja panjang, lintas generasi. Namun, langkah itu harus dimulai sekarang. Jangan menunggu bangsa ini semakin tertinggal baru kita menyadarinya.
Literasi adalah nyawa pendidikan, dan pendidikan adalah ruh peradaban. Jika kita ingin Indonesia maju, beradab, dan bermartabat, maka jalan satu-satunya adalah menata negeri ini dengan literasi.
Sebab, bangsa yang gemar membaca adalah bangsa yang luas wawasannya. Bangsa yang rajin menulis adalah bangsa yang tidak akan hilang dalam sejarah. Dan bangsa yang menata diri dengan literasi adalah bangsa yang mampu berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa besar di dunia. Yu, mulai.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!