VISI | Menantikan Kiprah Sekolah Maung di Jawa Barat
Oleh Idris Apandi
- Praktisi Pendidikan
- Penulis Buku “Guru kalbu“
Pembangunan pendidikan di Provinsi Jawa Barat hingga saat ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan mendasar, mulai dari akses pendidikan yang belum merata, tingkat partisipasi yang belum optimal, hingga relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Dalam konteks persaingan global yang semakin dinamis, mutu lulusan menjadi faktor penentu daya saing masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan terobosan yang tidak biasa, sebuah langkah berani dari pemimpin daerah untuk menghadirkan solusi yang lebih progresif dan berdampak nyata.
Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai tahun ajaran 2026/2027 menggulirkan program Sekolah Manusia Unggul atau yang dikenal dengan istilah Sekolah MAUNG. Program ini akan dilaksanakan di 27 SMA dan 13 SMK yang tersebar di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Sekolah-sekolah yang ditunjuk umumnya merupakan sekolah favorit, yang selama ini telah memiliki rekam jejak baik dalam prestasi akademik maupun nonakademik. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya ingin memperbaiki sistem dari nol, tetapi juga mengoptimalkan potensi yang sudah ada.
Inovasi Sekolah MAUNG merupakan gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. Gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi pendidikan dan ketenagakerjaan di Jawa Barat. Data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di provinsi ini mencapai 6,7 persen, dan sekitar 20 persen di antaranya merupakan lulusan SMA/SMK (Kompas, 17/12/2025).
Fakta ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Selain itu, persoalan karakter peserta didik juga menjadi sorotan serius. Maraknya kasus kekerasan, perundungan, rendahnya rasa hormat terhadap guru, serta lemahnya motivasi belajar menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk karakter yang kuat.
Melalui Sekolah MAUNG, pemerintah provinsi Jawa Barat berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keunggulan nonakademik serta karakter yang kokoh. Program ini juga dirancang untuk menjawab isu keadilan dalam pendidikan. Pendidikan berkualitas tidak boleh hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, tetapi harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang kurang mampu. Oleh karena itu, konsep inklusivitas menjadi salah satu prinsip utama dalam penyelenggaraan Sekolah MAUNG.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!