VISI | Menanam "Benih" Uang

ED
Selasa, 24 Oktober 2023 | 07:21 WIB
Bagikan
VISI | Menanam "Benih" Uang

Oleh Aep S. Abdullah

UANG seringkali menjadi segalanya dalam hidup. Orang bisa saling membunuh karena uang. Bahkan, di lingkungan keluarga, seseorang bisa gelap mata karena masalah uang.

Begitu banyak orang dalam bekerja atau berusaha mengutamakan uang dulu. Di mana-mana kita sering melihat orang bekerja dengan sikap "uang lebih dahulu". Namun anehnya, sikap seperti ini tak jarang membuatnya selalu merasa kekurangan uang. Ia tidak kaya.

Kata filsuf dan politisi Inggris Francis Bacon, "Uang adalah hamba yang baik tetapi tuan yang buruk".

Mengapa? Karena orang dengan sikap mengutamakan uang menjadi begitu pragmatis, sehingga mereka lupa bahwa uang tidak dapat dipanen jika mereka tidak menanam benih yang menumbuhkan uang tersebut.

Suatu saat atas referensi teman, saya membawa mobil ke tukang AC di rumahnya. Ia, sehari-hari bekerja di bengkel besar AC di Kota Bandung. Setelah saya sampaikan keluhan udara AC yang kurang dingin, dengan sigap dan tanpa banyak bicara ia memeriksa freon, filter dryer, kompresor, kondensor, evaporator dan valvenya. Setelah ketemu penyebabnya, ia membetulkan komponen AC yang menyebabkan kurang dingin. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, AC mobil saya sudah terasa dingin lagi.

Namun yang membuat saya mengingatnya, sebelum mobil itu bisa saya pakai, ia membersihkan setiap bagian mesin yang kotor dengan lap dan vacum cleaner sampai terlihat bersih. Ia tidak mengenakan tambahan biaya atas layanan plusnya itu. Sehingga setiap kali ada masalah dengan AC mobil saya, pasti kembali ke dia lagi.

Pengalaman lain, pada suatu saat saya dan keluarga dari Bandung hendak ke Cirebon kebetulan lewat Jalan Kadipaten - Jatitujuh. Di tengah udara yang cukup panas, mulai terasa lapar dan mampir ke sebuah rumah makan. Lokasinya di sebelah kanan jalan, dengan tempat parkir tidak terlalu luas. Saat itu sedang banyak pengunjungnya.

Di rumah makan itu, saya melihat lauk pauknya cukup komplit. Makanannya hangat dan beragam. Pemilik rumah makannya juga ramah. Bahkan, sebagai pengunjung baru, ia menawarkan cemilan dan pisang gratis ke meja tempat kami makan. Kami merasa sangat diperhatikan.

Seusai makan, saat kami membayar ke kasir bisa saja ia mengenakan harga yang cukup mahal. "Toh kami orang asing, yang tidak mungkin lewat jalan ini lagi. Mengapa repot-repot harus memberikan pelayanan ekstra? Kami cuma kebetulan lewat".

Pemilik rumah makan dan para pelayan di sana tidak berpikir demikian. Mereka mendahulukan pelayanan dan itulah sebabnya mereka begitu sibuk melayani pelanggan sementara rumah makan lainnya sepi pengunjung.

Perbedaannya di pelayanan, dan jelas bahwa pelayanan yang baik akan mendatangkan uang. Pemilik rumah makan dan para pelayan di sana telah menanamkan benih uang dan memeliharanya dengan baik dan telaten.

Benih uang adalah pelayanan. Maka "mengutamakan pelayanan" merupakan sikap yang akan mendatangkan kekayaan. Utamakan pelayanan lebih dahulu, maka uang akan datang dengan sendirinya.

Sikap "baiknya" itu membuat saya dan keluarga selalu mengingatnya. Sehingga, setiap kali perjalanan ke arah Indramayu atau Cirebon, kami akan selalu berusaha untuk makan siang di sana. ***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.