VISI | Maafkan Kami Ya Rasulullah
Oleh Idat Mustari
PERINGATAN maulid Rasulullah Saw tidak hanya untuk sekedar mengingatkan kembali waktu kelahirannya, melainkan juga untuk membangkitkan rasa cinta kepadanya. Melalui peringatan maulid kita diingatkan atas kehadiran sosok manusia yang memiliki kepribadian agung, yang memiliki riwayat kehidupan paling lengkap dibandingkan tokoh manapun disepanjang sejarah kehidupan manusia.
Tidak akan pernah kita menemukan biografi seorang tokoh di dunia ini yang di dalamnya tercatat bukan saja sepak terjang perjuangannya, pemikirannya, tetapi juga termasuk cara—prilaku yang bersifat privasi, seperti cara tidur, cara minum, cara makan, cara bersisir, cara mandi, dan seterusnya, kecuali ada dalam biografi Rasulullah Saw.
Melalui peringatan maulid Rasulullah saw perasaan cinta kita kepadanya dibangkitkan kembali dengan cara memperbanyak menyebut-nyebut namanya. Oleh karena seorang pecinta akan selalu menyebut-nyebut nama yang dicintainya. Bukankah hati kita berdebar kalau ada orang yang memanggil nama kekasih kita, meskipun kebetulan orang itu memanggil orang lain yang kebetulan namanya sama.
Kita diajarkan menyebut-nyebut Rasulullah saw dalam bacaan shalawat. Sebagai rasa cinta kita kepada Rasulullah saw kita sambut kelahiran anak kita dengan membacakan marhabannan yang sarat dengan bacaan shalawat. Begitupula kalau ada orang meninggal dunia, kita bacakan tahlilan yang di dalamnya ada bacaan shalawat. Meskipun ada juga di antara kita yang melarangnya dengan menyebut bahwa itu bid’ah, tetapi sebaiknya tidak perlu memperdebatkan apalagi melarangnya biarlah orang melaksanakannya karena rasa cintanya pada Rasulullah Saw.
Kita pun diingatkan untuk senantiasa membela kehormatan yang dicintainya. Seorang kekasih pasti marah ketika kekasihnya diganggunya, atau dihinakan orang. Secara fitrah seorang muslim sangat cinta kepada Nabi saw. Boleh jadi seorang muslim jarang melaksanakan ibadah shalat, puasa, tetapi jangan coba-coba ada orang yang menghina Nabi saw. Willfred Cantwell Smith menyatakan bahwa “Kaum Muslim masih dapat membiarkan serangan terhadap Allah; ada banyak orang ateis dan publikasi-publikasi ateistik, dan masyarakat-masyarakat rasionalistik; tetapi penghinaan terhadap Muhammad akan menyulut, bahkan dari kalangan’liberal’ dari umat itu, fanatisme yang menyala-nyala
Sungguh perasaan cinta kepada Rasulullah Saw kelak membawa kita hidup bersamanya. Seorang laki-laki dari dusun Arab yang jauh datang menemui Nabi Saw. Ia bertanya,”Kapan hari kiamat akan terjadi ?” Nabi saw tidak menjawabnya malahan balik bertanya,”Apa yang telah engkau persiapkan untuk itu?” Ia menjawab,”Demi Allah, saya tidak mempersiapkan amal yang banyak baik berupa shalat atau puasa, hanya saja saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi saw pun bersabda,”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”
Begitulah sedikit pesan dari peringatan maulid Rasulullah Saw agar kita bisa mencintainya dengan sungguh-sungguh, meskipun nampaknya kita baru bisa merayakannya, dan belum bisa mencapai hakikatnya. Ini terbukti, dengan prilaku kita yang jauh mirip dengan prilaku Rasulullah saw. Oleh karena itu sepantasnya kita untuk berkata dengan lirih,”Maafkan kami ya Rasulullah!.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!