VISI | Maafkan Kami Ya Rasulullah

ED
Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:21 WIB
Bagikan
VISI | Maafkan Kami Ya Rasulullah

Oleh Idat Mustari

PERINGATAN maulid Rasulullah Saw tidak hanya untuk sekedar  mengingatkan kembali waktu kelahirannya, melainkan juga untuk membangkitkan rasa cinta kepadanya. Melalui peringatan maulid kita diingatkan atas kehadiran sosok manusia yang memiliki kepribadian agung, yang memiliki riwayat kehidupan paling lengkap dibandingkan tokoh manapun disepanjang sejarah kehidupan manusia. 

Tidak akan pernah kita menemukan biografi seorang tokoh di dunia ini yang di dalamnya tercatat bukan saja sepak terjang perjuangannya, pemikirannya, tetapi juga termasuk cara—prilaku yang bersifat privasi, seperti cara tidur, cara minum, cara makan, cara bersisir, cara mandi, dan seterusnya, kecuali ada dalam biografi Rasulullah Saw.

Melalui peringatan maulid Rasulullah saw perasaan cinta kita kepadanya dibangkitkan kembali dengan cara memperbanyak menyebut-nyebut namanya. Oleh karena seorang pecinta akan selalu menyebut-nyebut nama yang dicintainya. Bukankah hati kita berdebar kalau ada orang yang memanggil nama kekasih kita, meskipun  kebetulan orang itu memanggil orang lain yang kebetulan namanya sama. 

Kita diajarkan menyebut-nyebut Rasulullah saw dalam bacaan shalawat. Sebagai rasa cinta kita kepada Rasulullah saw kita sambut kelahiran anak kita dengan membacakan marhabannan yang sarat dengan bacaan shalawat. Begitupula kalau ada orang meninggal dunia, kita bacakan tahlilan  yang di dalamnya ada bacaan shalawat.  Meskipun ada juga di antara kita yang melarangnya dengan menyebut bahwa itu bid’ah, tetapi sebaiknya tidak perlu memperdebatkan apalagi melarangnya  biarlah orang melaksanakannya karena rasa cintanya pada Rasulullah Saw.

Kita pun diingatkan untuk senantiasa membela kehormatan yang dicintainya. Seorang kekasih pasti marah ketika kekasihnya diganggunya, atau dihinakan orang. Secara fitrah seorang muslim sangat cinta kepada Nabi saw. Boleh jadi seorang muslim jarang melaksanakan ibadah shalat, puasa, tetapi jangan coba-coba ada orang yang menghina Nabi saw. Willfred Cantwell Smith menyatakan bahwa “Kaum Muslim masih dapat membiarkan serangan terhadap Allah; ada banyak orang ateis dan publikasi-publikasi ateistik, dan masyarakat-masyarakat rasionalistik; tetapi penghinaan terhadap Muhammad akan menyulut, bahkan dari kalangan’liberal’ dari umat itu, fanatisme yang menyala-nyala

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.