VISI | Loyalitas Menang, Kompetensi Tumbang!

ED
Rabu, 8 April 2026 | 06:31 WIB
Bagikan
VISI | Loyalitas Menang, Kompetensi Tumbang!

Oleh Dede Farhan Aulawi

DALAM dinamika kekuasaan, loyalitas politik kerap dipandang sebagai fondasi utama dalam membangun soliditas pemerintahan. Loyalitas dianggap menjamin stabilitas, kepatuhan, dan keseragaman arah kebijakan. Namun, ketika loyalitas ditempatkan lebih tinggi daripada kompetensi fundamental, yang lahir bukanlah kekuatan, melainkan kerentanan sistemik yang perlahan menggerogoti kualitas tata kelola negara.

Fenomena ini tidak jarang muncul dalam proses pengisian jabatan strategis. Individu yang dekat secara politik sering kali lebih diutamakan dibanding mereka yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan integritas profesional. Akibatnya, jabatan publik berubah dari amanah berbasis merit menjadi alat konsolidasi kekuasaan. Dalam jangka pendek, hal ini mungkin menciptakan kenyamanan bagi penguasa, tetapi dalam jangka panjang, ia menjadi bom waktu yang melemahkan institusi.

Ketika kompetensi diabaikan, kualitas kebijakan pun menurun. Keputusan-keputusan penting diambil bukan berdasarkan analisis yang matang, melainkan pertimbangan loyalitas semata. Hal ini berpotensi melahirkan kebijakan yang tidak efektif, tidak tepat sasaran, bahkan kontraproduktif terhadap kepentingan rakyat. Dalam sektor teknis seperti ekonomi, kesehatan, atau lingkungan, kekeliruan kecil saja dapat berdampak besar, apalagi jika dipegang oleh mereka yang tidak memiliki dasar keilmuan yang kuat.

Lebih jauh, dominasi loyalitas politik juga merusak budaya organisasi. Profesionalisme tergantikan oleh sikap “asal menyenangkan atasan”. Kritik dianggap ancaman, bukan masukan. Inovasi terhambat karena ruang berpikir kritis menyempit. Dalam lingkungan seperti ini, individu-individu berkualitas justru tersingkir atau memilih mundur, sehingga menciptakan lingkaran setan mediokritas.

Dampak lainnya adalah menurunnya kepercayaan publik. Masyarakat yang semakin kritis akan dengan mudah melihat ketimpangan antara jabatan dan kapasitas. Ketika pejabat publik gagal menunjukkan kinerja yang memadai, legitimasi pemerintah ikut tergerus. Pada titik tertentu, hal ini dapat memicu apatisme politik, bahkan ketidakstabilan sosial.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.