VISI | Lipstik Literasi Lingkungan

ED
Senin, 1 Desember 2025 | 05:51 WIB
Bagikan
VISI | Lipstik Literasi Lingkungan

Oleh Drajat

BELAKANGAN ini negeri kita kembali menangis. Air bah, banjir bandang, tanah longsor, dan bencana lain datang beruntun di sejumlah daerah. Rumah hanyut, keluarga kehilangan tempat tinggal, bahkan nyawa melayang. Berita demi berita hadir seperti rekaman lama yang diputar ulang: bencana datang—pejabat hadir—rapat darurat dimulai—pernyataan “kami akan evaluasi” disampaikan—lalu sunyi kembali.

Ironisnya, kata bencana alam semakin tidak tepat, karena banyak peristiwa sebenarnya merupakan bencana ulah manusia. Ketika hutan ditebang, gunung dikikis, sungai dipersempit, lahan hijau digantikan beton, maka air tidak lagi punya tempat berpijak selain mengamuk.

Dan tragisnya, kejadian seperti ini bukan kali pertama. Bukan pula yang kedua. Sudah puluhan tahun negeri ini diingatkan oleh air, tanah, dan angin—tetapi tampaknya manusia lebih memilih mendengar suara keuntungan ekonomi jangka pendek dibanding suara bumi yang sedang sekarat.

Negeri yang Tidak Mau Belajar

Salah satu fakta memilukan adalah rusaknya lahan yang dulunya menjadi paru-paru daerah. Contoh terbaru: 145 hektare kawasan kebun teh dirusak dan dialihfungsikan. Ini bukan angka kecil. Ini bukan sekadar berita kriminal lingkungan biasa. Ini alarm keras bahwa kita sedang kehilangan arah dalam pengelolaan sumber daya bumi.

Pertanyaannya sederhana tetapi menampar: Pemerintah ada di mana? Pengesahan izin dilakukan oleh siapa? Pengawasan dilakukan oleh siapa? Mengapa baru bersuara ketika viral dan bencana tak bisa dibantah?

Fenomena ini memperlihatkan wajah kepemimpinan yang hanya muncul ketika kamera menyala. Mereka tampil sebagai "pahlawan kesiangan", datang setelah rakyat basah kuyup, setelah rumah roboh, setelah air berubah menjadi air mata.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.