VISI | Krisis Nalar Umat, Disebabkan Nasab
Dan tingkatan pemahaman ini, memerlukan edukasi terlebih dahulu, ada pendahuluan, memahamkan inti dari manaqiban, baru sesuai pemahamannya, manaqiban ini bisa di amalkan.
"Manaqiban tidak bisa di hajar begitu saja, karena nantinya malah mengutamakan manaqiban di banding baca Al Qur'an...baca Qur'an saja belum lancar, eh malah berharap bisa dapat karomah, jadi sakti, dan malah berharap jadi wali pula...," katanya dibarengi tawa.
Hal di atas tersebut yang menjadi keprihatinan Kiai Faruq, terhadap fenomena sosial yang di sebabkan oleh kiai-kiai seperti dirinya itu, terlalu memaksakan umat masuk ke wilayah dimensi spiritual kebatinan, yang seharusnya memiliki dasar tauhid yang kuat terlebih dahulu.
Bukan melompat ke wilayah tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.
"Kiai itu egonya tinggi Buya !" ungkap Kiai Faruq yang selalu menyebut penulis dengan sebutan Buya.
"Waduuuh !". Penulis menyanggah tak enak di sebut seperti itu.
"Insyaallah Buya mah bakal jadi orang besar !"
Ujar sang Kiai Muda ini, "Wadduh," malah yang terucap dari bibir sang kiai ini do'a luar biasa yang sering juga penulis dengar dari rekan penulis lainnya juga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!