IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

VISI | Krisis Nalar Umat, Disebabkan Nasab

ED
Selasa, 18 Juni 2024 | 07:44 WIB
Bagikan
VISI | Krisis Nalar Umat, Disebabkan Nasab

Khususnya pada soal salah menafsiri hal terkait shalawatan, manaqiban, dan karomah kiai atau wali.

Mengapa kiai satu ini getek mengulas hal itu?

"Yaa, pertama umat masih harus dididik pemahaman aqidahnya terlebih dahulu...banyak kiai, ulama, di kita menyalahi keharusan mengajarkan ilmu, hingga meninggalkan bab pentingnya berwudhu, dan malah mengutamakan shalawatan...!," tuturnya.

Yaa ini yang sering terjadi di masyarakat kita, akibat propaganda shalawatan itu banyak mengandung keutamaan, karomah, dll, padahal yang diperlukan terlebih dahulu adalah membangun nilai ketauhidannya.

"Akhirnya, lihat banyak kiai dan ustad-ustad di kampung maupun di kota, minim memberikan pencerahan nilai keutamaan ilmu, yang ada, mereka terus saja mengerjakan di majlisnya shalawatan dan shalawatan," ungkapnya.

"Hasilnya mereka berharap shalawatan jadi solusi hidup, berpikir picik, mengharapkan keberkahannya, yang seharusnya dibarengi ilmu ketauhidan supaya shalawatannya menjalur kuat teryakini karena ada ilmunya."

Lalu dalam persoalan manaqiban, kiai juga perlu melihat bahwa umat beragam tingkat pemahamannya.

"Pemahaman mereka tidak bisa disamakan."

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.