VISI | Kiai
Rujukan Toleransi
Ada ungkapan, semakin dalam keilmuan seseorang maka akan semakin bijaksana. Semakin toleran. Begitu juga seorang Kiai akan punya banyak perspektif, punya banyak sudut pandang dalam melihat sebuah permasalahan yang ada di masyarakat. Seorang Kiai yang luas keilmuannya, tidak emosional. Figur-figur seperti KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Begitu juga KH Syaikhona Muhammad Cholil atau Mbah Cholil pendiri pesantren Kademangan Bangkalan Madura, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Syamsul Arifin, KH Muhammad Siddiq Jember, KH Hasyim Padangan Bojonegoro, dan KH Umar Dahlan, Sarang Rembang. Dari sejarahnya, mereka memecahkan masalah dengan kedalaman wawasan dan kemampuan spiritual, bukan emosional.
Menurut Kiai Haji Hasyim Muzadi dalam bukunya "Islam, Dialog, dan Kebangsaan", Kiai juga memiliki peran strategis dalam membangun dialog antar agama, menciptakan harmoni dan toleransi di tengah masyarakat yang beragam.
Dalam Politik
Dalam "Politik Kiai" karya Dr. M. Dawam Rahardjo, banyak dikupas mengenai peran kiai dalam dunia politik. Ia menggarisbawahi prinsip-prinsip keadilan dan keberpihakan kepada rakyat yang dikedepankan Kiai dalam konteks sistem politik.
Seiring dengan banyaknya Kiai yang dilibatkan dalam berpolitik, Kiai yang tawadhu KH Ahmad Syafi'i Maarif mengkritisinya melalui buku yang ia tulis, "Kiai dan Kritik Sosial". KH Ahmad Syafii Maarif memiliki pemikiran kritis terhadap beberapa perilaku kiai yang dianggap kontroversial. Diantaranya ada oknum Kiai yang menjual ayat-ayat Al Quran dan Hadist untuk digunakan mencapai tujuan syahwat politiknya.
Dalam Ekonomi
Dalam "Ekonomi Pesantren" karya KH Din Syamsuddin, ditegaskan bahwa kiai tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga memiliki pandangan ekonomi yang berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!