Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026

VISI | Ketika Tulisan Tak Lagi Bernyawa

ED
Jumat, 1 Agustus 2025 | 05:35 WIB
Bagikan
VISI | Ketika Tulisan Tak Lagi Bernyawa

Oleh Drajat

PENULIS tak pernah menghitung pasti berapa banyak tulisan telah penulis torehkan. Artikel, opini, esai pendidikan, refleksi kebangsaan, bahkan puisi dan kisah inspiratif. Media nasional, daerah, media komunitas, buletin sekolah, semua sudah dijejaki. Beberapa tulisan bahkan diminta langsung oleh redaksi, atau diminta pembaca untuk dilanjutkan karena dianggap mewakili kegelisahan publik. Bangga? Tentu. Tapi belakangan, justru dihantui pertanyaan: “Apakah tulisanku masih bernyawa?”

Di awal-awal menjadi penulis, setiap tulisan yang dimuat memberikan getaran luar biasa. Ada rasa lega karena bisa menyuarakan isi hati dan akal secara jernih. Ada harapan bahwa tulisan-tulisan itu akan menggugah nurani pembaca, mendorong perubahan kecil, atau setidaknya menjadi percikan diskusi sehat. Namun, kini penulis merasa seperti berbicara pada dinding. Tulisan penulis mungkin tampil di halaman utama, disebar di berbagai grup media sosial, namun resonansinya tak terasa. Seperti batu kecil yang dilempar ke danau luas—hanya menimbulkan riak sesaat, lalu hilang ditelan gelombang keheningan.

Penulis tidak sendiri. Banyak penulis lain yang mengaku merasakan kegersangan serupa. Apakah ini pertanda bahwa dunia kita sudah terlalu bising untuk mendengar suara jernih? Apakah tulisanku sudah tidak relevan, atau memang kita telah hidup dalam masyarakat yang hanya menghargai pujian, bukan kejujuran?

Penulis ingat, beberapa tulisan penulis cukup kritis terhadap kebijakan pendidikan, lingkungan, hingga ketidakadilan sosial. Bukan karena penulis benci pemerintah atau pesimis, justru karena mencintai negeri ini. Tulisan adalah bentuk kepedulian, bukan caci maki. Tapi tanggapannya? Sepi. Sunyi. Tak ada ruang diskusi, tak ada klarifikasi. Bahkan yang penulis tahu membaca tulisan itu pun memilih diam. Mungkin karena takut. Takut bersuara, takut diseret ke pusaran polemik digital, takut dicap pembangkang, takut rekam jejaknya mengganggu karier atau hubungannya dengan kekuasaan.

Sebaliknya, tulisan penulis yang sekadar mengapresiasi keberhasilan seorang pejabat atau pemimpin daerah, ramai tanggapan dan dibagikan berulang-ulang. Diberi jempol, komentar manis, bahkan dipajang di akun resmi mereka. Ironisnya, bukan tulisan itu yang paling jujur, tapi yang paling aman dan menguntungkan citra. Penulis tahu benar bedanya: mana yang lahir dari kedalaman nurani, dan mana yang hanya sekadar menyenangkan penguasa.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.