VISI | Ketika Tulisan Tak Lagi Bernyawa
Tapi sekali lagi, tulisan adalah cermin jiwa. Jika ia lahir dari kejujuran dan kepedulian, maka ia tetap bernyawa—meski tak disambut sorak sorai. Sebab sejarah membuktikan, banyak perubahan besar justru dimulai dari tulisan-tulisan kecil yang dianggap remeh pada masanya.
Ketika tulisan tidak bernyawa, barangkali karena kita sendiri yang mematikannya. Dengan menulis asal-asalan, tanpa nurani, hanya demi eksistensi. Tapi ketika kita menulis dengan kejujuran, meski tak viral, tulisan itu tetap hidup. Ia mungkin tidak terdengar sekarang, tapi kelak bisa menjadi jejak sejarah.
Maka, wahai para penulis dan guru, jangan lelah menulis. Jangan takut jujur. Jangan kecewa saat sunyi menyambutmu. Karena di dunia yang penuh kepalsuan, tulisan jujur adalah nyawa terakhir akal sehat.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!