VISI | Ketika Tulisan Tak Lagi Bernyawa
Penulis lalu merenung, apakah ini saatnya berhenti menulis? Atau mengubah gaya menjadi lebih "mainstream"? Tapi hati kecil menolak. Penulis menulis bukan untuk menyenangkan, tapi untuk menyampaikan kebenaran, meskipun pahit. Maka penulis sadar, bukan tulisanku yang mati, tetapi ruang hidupnya yang kini kian menyempit. Tulisan bernyawa adalah yang jujur, berpihak kepada nurani, dan berani menggugah. Tapi kalau ruang pembaca hanya diisi dengan pujian, maka tulisan jujur seperti kehilangan oksigen.
Lalu bagaimana tulisan bisa berdampak jika pembacanya tak lagi mau merenung? Barangkali kita terlalu sibuk mencari kenyamanan, dan menyingkirkan kegelisahan sebagai gangguan. Kita tidak lagi membaca untuk mengerti, tapi untuk mengonfirmasi keyakinan sendiri. Akibatnya, tulisan yang jujur dianggap mengganggu. Tulisan yang menggugat dianggap menyerang. Padahal sesungguhnya, tulisan yang bernyawa bukanlah yang menyenangkan, melainkan yang menyadarkan.
Penulis mulai memahami bahwa tulisan yang bernyawa tidak harus viral. Ia tidak perlu mendapat ribuan pembaca atau komentar. Cukup jika satu dua hati tergugah, lalu mengubah cara pandangnya, atau mengambil langkah kecil yang baik. Itulah kehidupan sebuah tulisan.
Penulis ingat satu kisah dari seorang pembaca yang berkata: "Pak, tulisan Bapak tentang pentingnya menjaga kebersihan sekolah kami jadikan dasar membangun bank sampah di madrasah." Kalimat itu lebih berharga dari ratusan likes tanpa makna. Itu adalah nyawa.
Tulisan juga seperti benih. Kadang jatuh di tanah tandus, tak tumbuh. Tapi bisa jadi, suatu hari ketika hujan turun, ia akan bertunas. Maka menulislah terus, meski sekarang terlihat seperti sia-sia. Karena kita tak pernah tahu kapan dan di mana tulisan kita akan berakar dan membuahkan perubahan.
Namun demikian, kita juga harus jujur bahwa ruang publik kita memang sedang tidak sehat. Para pembaca cerdas lebih memilih diam. Yang ramai justru mereka yang hidup dari polarisasi, adu domba, dan gimik. Sementara media sosial lebih menyukai konten instan dan sensasional daripada tulisan reflektif dan kritis. Di sinilah tantangan terbesar penulis hari ini: berjuang menjaga nyawa tulisan di tengah dunia yang gemar mematikan nalar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!