VISI | Ketika Membaca Diabaikan
Sementara itu, segelintir elite menikmati hasilnya. Mereka membaca laporan keuntungan, tetapi tidak membaca air mata warga. Mereka membaca grafik pertumbuhan, tetapi tidak membaca retakan sosial.
Di sinilah membaca kehilangan maknanya yang paling hakiki: membaca penderitaan manusia.
Pendidikan yang Terluka
Sebagai guru, penulis sering mendapati pertanyaan polos dari peserta didik: “Pak, kenapa banjir terus terjadi?” “Bu, kenapa hutan boleh dirusak?” “Kenapa yang menolong malah dimarahi?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Bukan karena jawabannya tidak ada, tetapi karena jawabannya terlalu pahit. Dunia pendidikan kembali menjadi korban. Guru diminta mengajarkan nilai, sementara praktik kehidupan justru mengingkarinya. Peserta didik diajarkan membaca, tetapi contoh nyata di hadapan mereka adalah para pemimpin yang tidak mau membaca. Bukankah ini luka yang dalam bagi pendidikan?
Membaca sejatinya adalah tindakan moral. Ia menuntut kejujuran untuk menerima fakta, keberanian untuk mengakui kesalahan, dan kerendahan hati untuk berubah. Bangsa yang enggan membaca adalah bangsa yang enggan bercermin.
Dan hari ini, negeri ini seperti takut bercermin. Takut melihat wajahnya sendiri yang penuh luka. Takut membaca sejarah yang berulang. Takut membaca masa depan yang kian suram jika kesalahan terus diulang.
Ketika membaca diabaikan, kehancuran bukanlah kemungkinan—ia adalah keniscayaan. Bukan hanya kehancuran ekologis, tetapi kehancuran moral dan kemanusiaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!