VISI | KDM, Islam dan Sunda Wiwitan
KANG Dedi Mulyadi (KDM) bukan sekadar politisi biasa. Ia adalah fenomena dalam dunia politik Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Banyak yang mengenalnya sejak menjabat sebagai Bupati Purwakarta, tapi sedikit yang benar-benar memahami bagaimana ia menggabungkan Islam, budaya Sunda, dan gaya kepemimpinan yang unik dalam membangun daerahnya.
Salah satu jejaknya yang menarik buat saya dukungannya terhadap pembangunan masjid. Salah satunya yang dibangun oleh Laksamana Muda TNI (Purn) Dadang Irawan di Purwakarta. Masjid Kang Dadang, yang kini dikenal sebagai Ketum Relawan Prabowo Gibran (Pragib) 2024, bagian dari tim sukses Prabowo-Gibran, menjelang pensiun membangun mesjid di sana. Dari diskusi dengan KDM, masjid yang dibangun Kang Dadang ini pun menjadi simbol akulturasi Islam dan budaya Sunda yang diperjuangkan KDM.
Ketika mendengarkan "tausiah" KDM saat itu, terasa bagaimana ia memadukan pemikiran tokoh intelektual Islam seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Gus Dur dengan kearifan lokal Sunda. Ini mengingatkan saya pada sosok Abah Dalang Asep Sunandar Sunarya, maestro wayang golek yang juga dikenal sebagai seorang seniman dan budayawan Sunda dalam mengartikulasikan Islam. KDM seakan melanjutkan tradisi para budayawan Sunda yang memahami Islam dengan cara yang kontekstual dan membumi.
Namun, pada saat itu tidak semua orang memahami pendekatan ini. Beberapa tokoh politik di Bandung bahkan menudingnya musyrik atau terlalu dekat dengan praktik mistis. Tuduhan ini muncul hanya karena di pendopo saat ia menjabat Bupati Purwakarta terdapat kereta kencana dan dupa. Padahal, di balik semua itu, ada pemikiran mendalam tentang pelestarian nilai-nilai Islam dan budaya yang berakar kuat di kepala KDM.
Saya sempat berencana mengundangnya dalam podcast VisiTalks VISI.NEWS untuk membahas sisi spiritualitasnya ini. Sayangnya, kesibukannya luar biasa padat pada saat kampanye Pilkada, membuat tak sempat mendatangkannya ke redaksi. Meski begitu, kini masyarakat semakin mengenal sosok KDM yang sebenarnya, bukan hanya dari potongan-potongan citra yang sering dipelintir oleh orang-orang yang belum memahami sosoknya secara utuh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!