VISI | KDM, Islam dan Sunda Wiwitan

ED
Selasa, 25 Maret 2025 | 05:26 WIB
Bagikan
VISI | KDM, Islam dan Sunda Wiwitan
Oleh Aep S Abdullah

KANG Dedi Mulyadi (KDM) bukan sekadar politisi biasa. Ia adalah fenomena dalam dunia politik Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Banyak yang mengenalnya sejak menjabat sebagai Bupati Purwakarta, tapi sedikit yang benar-benar memahami bagaimana ia menggabungkan Islam, budaya Sunda, dan gaya kepemimpinan yang unik dalam membangun daerahnya.

Salah satu jejaknya yang menarik buat saya dukungannya terhadap pembangunan masjid. Salah satunya yang dibangun oleh Laksamana Muda TNI (Purn) Dadang Irawan di Purwakarta. Masjid Kang Dadang, yang kini dikenal sebagai Ketum Relawan Prabowo Gibran (Pragib) 2024, bagian dari tim sukses Prabowo-Gibran, menjelang pensiun membangun mesjid di sana. Dari diskusi dengan KDM, masjid yang dibangun Kang Dadang ini pun menjadi simbol akulturasi Islam dan budaya Sunda yang diperjuangkan KDM.

Ketika mendengarkan "tausiah" KDM saat itu, terasa bagaimana ia memadukan pemikiran tokoh intelektual Islam seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Gus Dur dengan kearifan lokal Sunda. Ini mengingatkan saya pada sosok Abah Dalang Asep Sunandar Sunarya, maestro wayang golek yang juga dikenal sebagai seorang seniman dan budayawan Sunda dalam mengartikulasikan Islam. KDM seakan melanjutkan tradisi para budayawan Sunda yang memahami Islam dengan cara yang kontekstual dan membumi.

Namun, pada saat itu tidak semua orang memahami pendekatan ini. Beberapa tokoh politik di Bandung bahkan menudingnya musyrik atau terlalu dekat dengan praktik mistis. Tuduhan ini muncul hanya karena di pendopo saat ia menjabat Bupati Purwakarta terdapat kereta kencana dan dupa. Padahal, di balik semua itu, ada pemikiran mendalam tentang pelestarian nilai-nilai Islam dan budaya yang berakar kuat di kepala KDM.

Saya sempat berencana mengundangnya dalam podcast VisiTalks VISI.NEWS untuk membahas sisi spiritualitasnya ini. Sayangnya, kesibukannya luar biasa padat pada saat kampanye Pilkada, membuat tak sempat mendatangkannya ke redaksi. Meski begitu, kini masyarakat semakin mengenal sosok KDM yang sebenarnya, bukan hanya dari potongan-potongan citra yang sering dipelintir oleh orang-orang yang belum memahami sosoknya secara utuh.

Keunikan KDM sebagai pemimpin adalah bagaimana ia menjalankan "dakwah bil hal" atau dakwah melalui tindakan nyata. Ia bukan sekadar berbicara tentang kebaikan, tetapi melakukannya. Ibadah yang ia jalankan bukan hanya lazimah (untuk diri sendiri), tetapi muta’adiyyah (bermanfaat bagi orang lain). Ini terlihat dari bagaimana ia memberikan bantuan langsung kepada masyarakat kecil, terkadang dengan gaya yang unik dan penuh gimmick.

Gaya kepemimpinan ini membuatnya menjadi tokoh yang fenomenal. Ia bukan sekadar politisi, tetapi juga seorang "kiai" dalam konteks sosial-politik, menginspirasi banyak orang dengan pendekatan yang tak biasa. Kemampuannya dalam berkomunikasi secara lugas dan strategis, serta kedekatannya dengan masyarakat, menjadikannya salah satu pemimpin paling berpengaruh di Jawa Barat.

Fenomena KDM ini mengingatkan saya juga pada sebuah pengalaman di tahun 1990-an. Saat itu, media tempat saya bekerja di beli oleh media besar dari Jakarta yang sudah menguasai 9 media cetak di Tanah Air dan mencoba masuk ke pasar Jawa Barat dengan dana melimpah dan SDM terbaik. Kita berkantor di kawasan elit Braga, Bandung, tetapi media kami gagal berkembang. Sampai akhirnya, seorang budayawan dari UGM, Umar Kayam, berkata kepada salah satu pimpinan media kami, "Kamu tidak akan berhasil selama kamu tidak memahami budaya orang Jawa Barat".

Memang pada saat itu, rubrik-rubrik yang terkait dengan Islam dan budaya Sunda dihilangkan oleh para pimpinan baru ini. Mereka mengantinya dengan rubrik yang berkelas, seperti analisa pasar modal, opini, dan statistik. Tapi, tiras pun melorot begitu juga pendapatan iklan. Pembaca sudah banyak yang berkomentar media kami sudah bukan lagi medianya Jawa Barat. Sampai akhirnya bubar dan pindah kepemilikan.

KDM memahami betul filosofi ini. Ia tidak hanya memimpin, tetapi juga menyelami budaya Sunda dengan pendekatan yang kontekstual. Ia seperti menjelma menjadi figur yang menghidupkan kembali ajaran Sunda Wiwitan yang mengedepankan harmoni dengan alam, tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Pendekatan ini sejalan dengan dalil dalam Al-Qur'an, "U'd'u ila sabili rabbika bil hikmati wal mau'izatil hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan" (QS. An-Nahl: 125), yang artinya "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik." KDM bukan hanya berdakwah dengan kata-kata, tetapi dengan kebijaksanaan dan pendekatan yang dapat diterima oleh masyarakatnya.

Dalam hubungannya dengan alam dan lingkungan ia mengadopsi prinsip rahmatan lil alamin, di mana Islam menjadi rahmat bagi semua. Gaya kepemimpinannya menunjukkan bahwa Islam bisa hidup berdampingan dengan tradisi lokal tanpa harus kehilangan esensinya. Ini pula yang menjadi kunci suksesnya dalam membangun Purwakarta, yang kini dikenal sebagai salah satu daerah dengan identitas budaya yang kuat di Jawa Barat.

Sunda Wiwitan, katanya, selama ini juga masih banyak yang menyalah artikan. Sunda Wiwitan adalah ajaran untuk memelihara keseimbangan dan harmoni dengan lingkungan yang diajarkan oleh para leluhur Sunda tempo dulu.

Tentu, di balik segala pujian, ada juga tantangan dan kritik. Beberapa pihak menilai pendekatannya terlalu populis atau hanya sekadar mencari panggung. Namun, bagi masyarakat kecil yang merasakan langsung manfaat dari kebijakannya, KDM adalah sosok yang membawa perubahan nyata.

Keberhasilan KDM juga tidak lepas dari kemampuannya dalam memahami psikologi massa. Ia tidak sekadar membangun infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur sosial dan kultural. Ini yang membuatnya lebih dari sekadar politisi—ia adalah seorang pemimpin dengan visi yang kuat.

Dengan segala keunikannya, KDM telah menciptakan fenomena baru dalam dunia politik Indonesia. Ia adalah bukti bahwa kepemimpinan tidak hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana memahami akar budaya masyarakat yang dipimpin. Seperti kata pepatah Sunda, "Ulah nepi ka kapalang beungeut, kudu nepi ka jero hate." (Jangan hanya melihat dari permukaan, tapi pahami sampai ke dalam hati).

Dan itulah yang dilakukan KDM. Ia tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga bagian dari jiwa masyarakat yang ia layani. Fenomenal? Tentu saja.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.