VISI | KDM, Besan dan Insiden
Yang ironis adalah absennya suara dari Irjen Pol Karyoto, Kapolda Metro Jaya sekaligus besan KDM. Sebagai tuan rumah dari pihak keluarga pengantin wanita, publik berharap ada pernyataan tanggung jawab moral atau sekadar empati. Namun hingga hari ini, Irjen Karyoto belum mengeluarkan pernyataan apa pun. Keheningan ini kian mempertebal kesan bahwa insiden ini disikapi dengan sangat elitis.
Peristiwa ini bukan yang pertama; kejadian serupa pernah terjadi di Pasuruan pada 2008 saat pembagian zakat, yang menewaskan 21 orang. Kericuhan juga pernah terjadi di Semarang, Banjarmasin, Jakarta, Gresik, Bantul, dan Lamongan karena pembagian zakat atau sedekah yang tidak terkelola dengan baik.
Dosen Sosiologi UGM, AB Widyanta, menilai insiden Garut menunjukkan ekstremitas ketimpangan sosial. Di satu sisi, pejabat publik menggelar pesta mewah, sementara di sisi lain rakyat berebut bantuan karena kemiskinan struktural. Menurutnya, hajatan besar semacam ini justru mempertontonkan bahwa pejabat seperti memiliki seluruh sumber daya, dan rakyat hanya bisa mengaksesnya dengan berebut dan berharap belas kasih.
KDM tentu bukan satu-satunya yang harus bertanggung jawab. Panitia pelaksana, Pemkab Garut, dan aparat lokal juga punya tanggung jawab. Namun, karena KDM adalah figur publik utama dalam peristiwa ini, maka wajar jika sorotan utama mengarah kepadanya. Sikap “one man show” yang selama ini jadi ciri khas komunikasi politik KDM, kali ini justru menjadi bumerang.
Harus diakui, sebagai manusia, KDM tentu tidak sempurna. Tidak ada yang bisa meramalkan insiden tersebut secara pasti. Namun, dalam dunia kepemimpinan publik, ketidaksempurnaan itu seharusnya dikompensasi dengan kehati-hatian, perencanaan matang, dan koordinasi yang baik, bukan dengan spontanitas dan improvisasi.
Gaya overconfident KDM yang selama ini dianggap sebagai kekuatan karismatiknya, kali ini menjadi titik lemah. Ketika seorang pemimpin terlalu percaya diri dan merasa semua bisa dikendalikan hanya dengan ketokohan, maka risiko kelengahan bisa berujung fatal. Mungkin ini adalah teguran dari semesta, atau dalam bahasa spiritual: dari Sang Maha Kuasa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!