VISI | Jujur di Negeri Sendiri
Tidak heran jika banyak orang jujur kini memilih diam. Bahkan tiarap.
Mereka khawatir, bila terlalu menonjol, ada tangan-tangan tak terlihat yang mendorong mereka ke lubang yang sama. Kita kerap bertanya, “Mengapa Indonesia sulit berbenah?” Jawabannya sederhana: karena integritas tidak diberi ruang.
Di banyak lembaga, termasuk institusi pendidikan, kejujuran pun sering tidak dihargai sebagaimana mestinya. Kita tahu bagaimana di balik jargon “merdeka belajar” atau “reformasi pendidikan”, masih bersarang oknum-oknum yang menjadikan sektor ini sebagai ladang basah.
Tidak jarang para guru terbaik enggan naik menjadi kepala sekolah. Banyak yang berkata terus terang: “Saya takut. Jangan-jangan nanti sekolah dijadikan ATM para pejabat di atasnya.”
Pernyataan itu terdengar pahit. Tetapi siapa yang bisa menyalahkan? Di beberapa daerah, praktik-praktik ilegal, permintaan setoran, intervensi proyek, hingga permainan anggaran masih terjadi. Dan bila seorang pemimpin sekolah menolak? Ia diintimidasi, dimutasi, atau dipersulit proses administratifnya.
Bagaimana mungkin pendidikan bisa maju jika lingkungan yang harusnya menjadi teladan justru tersangkut korupsi?
Kadang kita merenung: mengapa justru di tanah kelahirannya sendiri, orang jujur merasa menjadi warga kelas dua?
Negeri ini seperti mencintai kepintaran, tetapi takut pada integritas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!