VISI | Jejak Digital dan Iklan Tak Sebagus Moral

ED
Sabtu, 12 April 2025 | 21:26 WIB
Bagikan
VISI | Jejak Digital dan Iklan Tak Sebagus Moral

Belum lagi urusan file multimedia. Foto dokumen, rekaman pertemuan, atau selfie bareng agensi iklan bisa jadi bumerang. Bayangkan kalau ada foto: “Kick-off Meeting Proyek Iklan” dan di bawahnya ada caption “#NoKorupsi.” Ironi level dewa.

Dan oh, metadata! Ini ibarat kartu rahasia dalam permainan Uno. Metadata bisa menunjukkan kapan file dibuat, diubah, dan oleh siapa. Jadi, meskipun dokumennya diedit jam 3 pagi, metadata tetap mencatat—karena hukum digital itu jujur, tidak kenal ngantuk.

Aplikasi pun bisa jadi saksi. Kalender digital yang menyimpan jadwal pertemuan dengan “Pak A dari agensi X” pada jam makan siang bisa jadi lebih mematikan dari CCTV restoran. Karena data aplikasi itu diam-diam menyimpan segalanya—kecuali mungkin niat baik.

Semua proses itu masuk dalam kategori forensik digital. Bukan forensic di film kriminal yang berdarah-darah, tapi versi yang membuka data dan kejujuran. Alatnya canggih, orangnya serius, tapi tetap ada ruang untuk humor—karena kadang data korupsi itu too absurd to be true.

Berdasarkan data ICW 2023, sektor pengadaan barang/jasa masih menduduki posisi teratas kasus korupsi di Indonesia, yaitu 63,3%. Dari semua proyek, iklan termasuk yang paling “menggiurkan.” Kenapa? Karena ukurannya fleksibel, hasilnya abstrak, dan auditnya bisa digiring pakai PowerPoint kreatif.

Korupsi iklan ini semacam ironi publik. Karena yang dikorupsi adalah sesuatu yang biasanya digunakan untuk kampanye antikorupsi. Jadi, iklannya bilang “Ayo Lawan Korupsi,” tapi anggarannya malah bocor ke celengan pribadi.

Sebetulnya, ini bukan sekadar soal RK atau Bank BJB. Tapi lebih ke budaya digital kita yang masih berpikir bahwa ‘hapus chat = aman.’ Padahal dalam dunia forensik digital, yang sudah dihapus pun bisa ‘dibangkitkan.’

Opini publik sekarang juga terlibat. Masyarakat makin kritis, bahkan netizen bisa jadi penyidik cadangan. Kalau KPK punya alat canggih, netizen punya insting dan kejulidan tingkat tinggi. Kadang, investigasi Twitter lebih cepat dari konferensi pers.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.