VISI | Jejak Digital dan Iklan Tak Sebagus Moral

ED
Sabtu, 12 April 2025 | 21:26 WIB
Bagikan
VISI | Jejak Digital dan Iklan Tak Sebagus Moral

Oleh Aep S. Abdullah

KALAU dulu maling larinya ke hutan, sekarang larinya ke folder tersembunyi di laptop. Begitulah kira-kira tantangan zaman digital yang dihadapi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kasus dugaan korupsi pengadaan iklan di Bank BJB yang menyeret nama Ridwan Kamil jadi bukti nyata, bahwa korupsi kini lebih senang pakai Wi-Fi.

KPK, layaknya Sherlock Holmes versi digital, telah menyita perangkat elektronik milik Ridwan Kamil. Kemungkinan file-file yang ada di ponsel, tablet, laptop—lengkap, tinggal kurang smart fridge saja. Mungkin nanti lemari es pun ikut disita, kalau isinya ternyata dokumen yang dibekukan.

Menariknya, dari semua barang sitaan itu, yang paling ‘berbicara’ justru bukan manusianya, melainkan data-datanya. Percakapan WhatsApp, email, dan catatan digital bisa jadi lebih cerewet daripada konferensi pers.

Dalam konteks komunikasi, ini bukan sekadar soal siapa chat sama siapa. Tapi lebih ke siapa ngatur siapa, siapa disuruh ngapain, dan tentu saja, siapa yang minta bagian. Karena di dunia korupsi, komunikasi itu kunci. Dan sayangnya, kadang tak sempat dihapus.

Dokumen digital juga tak kalah penting. Bayangkan kalau KPK menemukan proposal agensi iklan bernilai miliaran tapi cuma ditulis pakai font Comic Sans. Kalau bukan karena niat korup, minimal niat desainnya patut dipertanyakan.

Dari data internet, penyidik bisa tahu aktivitas penelusuran. Misalnya, kalau ternyata ada pencarian “cara bersih-bersih metadata dokumen agar tidak ketahuan KPK,” maka itu bisa jadi bukti yang cukup... untuk dapat nilai A di mata penyidik.

Data lokasi dan waktu juga jadi andalan. Dalam dunia korupsi, keberadaan fisik kadang lebih penting dari kata-kata. Karena kalau kamu bilang enggak ikut rapat, tapi GPS bilang kamu di ruang rapat, yaa... selamat datang di dunia kebohongan berbasis lokasi.

Belum lagi urusan file multimedia. Foto dokumen, rekaman pertemuan, atau selfie bareng agensi iklan bisa jadi bumerang. Bayangkan kalau ada foto: “Kick-off Meeting Proyek Iklan” dan di bawahnya ada caption “#NoKorupsi.” Ironi level dewa.

Dan oh, metadata! Ini ibarat kartu rahasia dalam permainan Uno. Metadata bisa menunjukkan kapan file dibuat, diubah, dan oleh siapa. Jadi, meskipun dokumennya diedit jam 3 pagi, metadata tetap mencatat—karena hukum digital itu jujur, tidak kenal ngantuk.

Aplikasi pun bisa jadi saksi. Kalender digital yang menyimpan jadwal pertemuan dengan “Pak A dari agensi X” pada jam makan siang bisa jadi lebih mematikan dari CCTV restoran. Karena data aplikasi itu diam-diam menyimpan segalanya—kecuali mungkin niat baik.

Semua proses itu masuk dalam kategori forensik digital. Bukan forensic di film kriminal yang berdarah-darah, tapi versi yang membuka data dan kejujuran. Alatnya canggih, orangnya serius, tapi tetap ada ruang untuk humor—karena kadang data korupsi itu too absurd to be true.

Berdasarkan data ICW 2023, sektor pengadaan barang/jasa masih menduduki posisi teratas kasus korupsi di Indonesia, yaitu 63,3%. Dari semua proyek, iklan termasuk yang paling “menggiurkan.” Kenapa? Karena ukurannya fleksibel, hasilnya abstrak, dan auditnya bisa digiring pakai PowerPoint kreatif.

Korupsi iklan ini semacam ironi publik. Karena yang dikorupsi adalah sesuatu yang biasanya digunakan untuk kampanye antikorupsi. Jadi, iklannya bilang “Ayo Lawan Korupsi,” tapi anggarannya malah bocor ke celengan pribadi.

Sebetulnya, ini bukan sekadar soal RK atau Bank BJB. Tapi lebih ke budaya digital kita yang masih berpikir bahwa ‘hapus chat = aman.’ Padahal dalam dunia forensik digital, yang sudah dihapus pun bisa ‘dibangkitkan.’

Opini publik sekarang juga terlibat. Masyarakat makin kritis, bahkan netizen bisa jadi penyidik cadangan. Kalau KPK punya alat canggih, netizen punya insting dan kejulidan tingkat tinggi. Kadang, investigasi Twitter lebih cepat dari konferensi pers.

Jadi, harapannya kasus ini bukan cuma jadi headline sesaat. Tapi jadi pelajaran bersama bahwa di era digital, jejak korupsi tak mudah dihapus. Mungkin dulu bisa disembunyikan di lemari besi, tapi sekarang? Sekali tersinkron ke cloud, wassalam.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.