VISI | Indahnya Kepemimpinan
Air itu hanya cukup untuk satu orang. Semua orang mengira sang raja akan meminumnya. Namun ia justru mengucapkan terima kasih, lalu menolak meminum air tersebut. Dalam berbagai versi kisah, tindakan itu dimaksudkan agar pasukannya mengetahui bahwa ia tidak ingin menikmati sesuatu yang tidak dapat dinikmati bersama oleh orang-orang yang dipimpinnya.
Terlepas dari perbedaan versi historis kisah tersebut, pesan moralnya sangat kuat. Pemimpin sejati tidak mendahulukan dirinya sendiri. Ia memilih merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.
Bandingkan dengan fenomena yang sering kita lihat hari ini. Ketika rakyat mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan, sebagian elite sibuk memperdebatkan kekuasaan. Ketika pendidikan menghadapi berbagai tantangan, perhatian publik justru sering tersita oleh kegaduhan politik yang tidak produktif. Ketika hasil asesmen menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik masih memerlukan banyak perbaikan, energi bangsa habis untuk saling menyalahkan. Padahal rakyat tidak membutuhkan pertengkaran. Rakyat membutuhkan solusi.
Kepemimpinan bukanlah kemampuan berbicara paling keras. Bukan pula kemampuan membangun citra paling meyakinkan. Kepemimpinan adalah keberanian mengambil tanggung jawab. Pemimpin yang baik tidak sibuk mencari kambing hitam. Ia lebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa yang belum saya lakukan?" Di situlah letak kebesaran seorang pemimpin.
Sebagai guru, penulis sering belajar dari ruang kelas. Setiap bulan peserta didik diberi kesempatan menjadi ketua kelas secara bergantian. Mereka belajar mengatur teman-temannya. Belajar mengambil keputusan. Belajar menerima kritik. Dan yang paling menarik, ketika masa tugas selesai, sebagian besar melepaskan jabatan itu dengan penuh kelegaan. Mereka berkata, "Pak, ternyata menjadi pemimpin itu tidak mudah."
Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung pelajaran besar. Anak-anak memahami bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan. Jabatan adalah tanggung jawab. Mengapa pelajaran sederhana seperti ini justru sering hilang ketika manusia tumbuh dewasa?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!