VISI | Indahnya Kepemimpinan

Desi Rossilawati
Selasa, 30 Juni 2026 | 07:58 WIB
Bagikan
VISI | Indahnya Kepemimpinan

Oleh: Drajat

SEMAKIN hari, negeri ini semakin mengundang senyum—senyum yang getir. Bukan karena rakyat hidup semakin sejahtera. Bukan pula karena pendidikan semakin maju atau keadilan semakin terasa. Senyum itu hadir karena begitu banyak ironi yang dipertontonkan di hadapan publik. Sesuatu yang dahulu terasa mustahil, kini perlahan dianggap biasa.

Orang yang tidak memiliki rekam jejak memadai dapat dengan mudah menduduki posisi strategis. Sebaliknya, tidak sedikit anak bangsa yang memiliki kompetensi, integritas, dan keberanian justru tersisih. Ada yang kehilangan ruang hanya karena mengingatkan. Ada yang dijauhkan karena mengkritisi. Ada pula yang dicap mengganggu hanya karena menginginkan negeri ini menjadi lebih baik.

Padahal kritik bukanlah permusuhan. Kritik adalah bentuk kepedulian. Bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang sepi kritik, melainkan bangsa yang mampu mengubah kritik menjadi energi perbaikan.

Sebagai guru, penulis selalu percaya bahwa pendidikan bukan sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Membentuk hati. Membentuk nurani. Membentuk cara memandang amanah. Karena itu, ketika berbicara tentang kepemimpinan, penulis selalu mengingatkan peserta didik bahwa jabatan bukan hadiah. Jabatan bukan pula simbol kehebatan. Jabatan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam tradisi Islam terdapat sabda Rasulullah SAW yang sangat terkenal: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."

Kalimat itu sederhana. Namun maknanya sangat dalam. Pemimpin bukan sekadar orang yang memiliki kekuasaan. Pemimpin adalah orang yang memikul beban orang lain.

Ada sebuah kisah kepemimpinan yang sering diceritakan dari perjalanan Alexander Agung atau Iskandar Zulkarnaen dalam berbagai literatur populer. Dikisahkan ketika memimpin pasukannya melintasi padang pasir yang panjang, rombongan mengalami kehausan yang luar biasa. Setelah perjalanan yang melelahkan, dua orang prajurit berhasil memperoleh sedikit air dan membawanya kepada sang pemimpin.

Air itu hanya cukup untuk satu orang. Semua orang mengira sang raja akan meminumnya. Namun ia justru mengucapkan terima kasih, lalu menolak meminum air tersebut. Dalam berbagai versi kisah, tindakan itu dimaksudkan agar pasukannya mengetahui bahwa ia tidak ingin menikmati sesuatu yang tidak dapat dinikmati bersama oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Terlepas dari perbedaan versi historis kisah tersebut, pesan moralnya sangat kuat. Pemimpin sejati tidak mendahulukan dirinya sendiri. Ia memilih merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.

Bandingkan dengan fenomena yang sering kita lihat hari ini. Ketika rakyat mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan, sebagian elite sibuk memperdebatkan kekuasaan. Ketika pendidikan menghadapi berbagai tantangan, perhatian publik justru sering tersita oleh kegaduhan politik yang tidak produktif. Ketika hasil asesmen menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik masih memerlukan banyak perbaikan, energi bangsa habis untuk saling menyalahkan. Padahal rakyat tidak membutuhkan pertengkaran. Rakyat membutuhkan solusi.

Kepemimpinan bukanlah kemampuan berbicara paling keras. Bukan pula kemampuan membangun citra paling meyakinkan. Kepemimpinan adalah keberanian mengambil tanggung jawab. Pemimpin yang baik tidak sibuk mencari kambing hitam. Ia lebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa yang belum saya lakukan?" Di situlah letak kebesaran seorang pemimpin.

Sebagai guru, penulis sering belajar dari ruang kelas. Setiap bulan peserta didik diberi kesempatan menjadi ketua kelas secara bergantian. Mereka belajar mengatur teman-temannya. Belajar mengambil keputusan. Belajar menerima kritik. Dan yang paling menarik, ketika masa tugas selesai, sebagian besar melepaskan jabatan itu dengan penuh kelegaan. Mereka berkata, "Pak, ternyata menjadi pemimpin itu tidak mudah."

Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung pelajaran besar. Anak-anak memahami bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan. Jabatan adalah tanggung jawab. Mengapa pelajaran sederhana seperti ini justru sering hilang ketika manusia tumbuh dewasa?

Dalam dunia hipnoterapi dikenal satu prinsip penting bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh keyakinan terdalam yang terus diulang dalam pikirannya. Apabila seseorang setiap hari meyakini bahwa jabatan adalah hak istimewa, maka ia akan mempertahankannya dengan segala cara. Namun apabila ia meyakini bahwa jabatan adalah amanah, maka ia akan lebih banyak bertanya, "Apakah saya masih layak?" "Apakah saya masih bermanfaat?" "Apakah saya masih dipercaya?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi benteng agar kekuasaan tidak berubah menjadi kesombongan. Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Universitas melahirkan ribuan lulusan terbaik setiap tahun. Guru-guru terus mendidik generasi muda. Peneliti menghasilkan berbagai gagasan. Anak-anak muda menciptakan inovasi. Yang sering kali menjadi persoalan adalah apakah sistem memberi ruang kepada kompetensi dan integritas untuk bertumbuh. Ketika kedekatan lebih dihargai daripada kemampuan, ketika loyalitas pribadi lebih diutamakan daripada profesionalisme, maka perlahan kepercayaan publik akan terkikis. Padahal modal terbesar sebuah bangsa bukan hanya sumber daya alam. Modal terbesar bangsa adalah kepercayaan. Sekali kepercayaan itu hilang, sangat sulit mengembalikannya.

Indonesia pernah melahirkan banyak pemimpin yang hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dan menjadikan jabatan sebagai ladang pengabdian. Mereka memahami bahwa kekuasaan bukan tempat menikmati kemewahan, melainkan ruang untuk memperbesar manfaat. Warisan seperti itulah yang sesungguhnya perlu dihidupkan kembali. Bukan sekadar dikenang dalam pidato. Tetapi diwujudkan dalam kebijakan.

Jika kita benar-benar ingin menyongsong Generasi Emas 2045, maka yang harus dibangun bukan hanya kecerdasan akademik. Yang harus dibangun adalah budaya kepemimpinan. Budaya mendengar. Budaya rendah hati. Budaya menerima kritik. Budaya mengakui kesalahan. Budaya menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Anak-anak harus melihat contoh nyata bahwa menjadi pemimpin berarti siap berkorban, bukan siap dilayani.

Pada akhirnya, jabatan hanyalah titipan. Hari ini di tangan kita. Esok berpindah kepada orang lain. Yang akan tetap tinggal hanyalah jejak pengabdian. Karena itu, keindahan kepemimpinan tidak diukur dari lamanya seseorang berkuasa. Bukan pula dari banyaknya pengawal, luasnya kewenangan, atau megahnya panggung yang dimiliki. Keindahan kepemimpinan lahir ketika seorang pemimpin mampu berkata, "Saya tidak akan menikmati kenyamanan sendirian ketika rakyat yang saya pimpin masih berjuang."

Dan ketika kalimat itu tidak berhenti sebagai pidato, melainkan menjadi laku hidup sehari-hari, saat itulah kepemimpinan berubah menjadi cahaya. Cahaya yang tidak hanya menerangi zamannya. Tetapi juga menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.*

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.