VISI | Indahnya Kepemimpinan
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
SEMAKIN hari, negeri ini semakin mengundang senyum—senyum yang getir. Bukan karena rakyat hidup semakin sejahtera. Bukan pula karena pendidikan semakin maju atau keadilan semakin terasa. Senyum itu hadir karena begitu banyak ironi yang dipertontonkan di hadapan publik. Sesuatu yang dahulu terasa mustahil, kini perlahan dianggap biasa.
Orang yang tidak memiliki rekam jejak memadai dapat dengan mudah menduduki posisi strategis. Sebaliknya, tidak sedikit anak bangsa yang memiliki kompetensi, integritas, dan keberanian justru tersisih. Ada yang kehilangan ruang hanya karena mengingatkan. Ada yang dijauhkan karena mengkritisi. Ada pula yang dicap mengganggu hanya karena menginginkan negeri ini menjadi lebih baik.
Padahal kritik bukanlah permusuhan. Kritik adalah bentuk kepedulian. Bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang sepi kritik, melainkan bangsa yang mampu mengubah kritik menjadi energi perbaikan.
Sebagai guru, penulis selalu percaya bahwa pendidikan bukan sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Membentuk hati. Membentuk nurani. Membentuk cara memandang amanah. Karena itu, ketika berbicara tentang kepemimpinan, penulis selalu mengingatkan peserta didik bahwa jabatan bukan hadiah. Jabatan bukan pula simbol kehebatan. Jabatan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Dalam tradisi Islam terdapat sabda Rasulullah SAW yang sangat terkenal: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."
Kalimat itu sederhana. Namun maknanya sangat dalam. Pemimpin bukan sekadar orang yang memiliki kekuasaan. Pemimpin adalah orang yang memikul beban orang lain.
Ada sebuah kisah kepemimpinan yang sering diceritakan dari perjalanan Alexander Agung atau Iskandar Zulkarnaen dalam berbagai literatur populer. Dikisahkan ketika memimpin pasukannya melintasi padang pasir yang panjang, rombongan mengalami kehausan yang luar biasa. Setelah perjalanan yang melelahkan, dua orang prajurit berhasil memperoleh sedikit air dan membawanya kepada sang pemimpin.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!