VISI | Cerita Baik atau Buruk
Oleh Idat Mustari
- Ketua DKM Masjid Al-Ihklas Istana Kawaluyaan Indah
- Komisaris BUMD Kab Bandung
“DUNIA ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Kisah Mahabrata
Atau tragedi dari Yunani”
Sepenggal lirik nyanyian Achmad Albar dari judul Panggung Sandiwara. Yang namanya sandiwara pasti di dalamnya ada cerita. Setiap dari kita punya peran disetiap cerita kehidupan.
Setiap orang hidup dari cerita satu ke cerita yang lain. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun adalah jalinan cerita dalam hidup ini. Dan cerita hidup setiap orang pun berakhir setelah meninggalkan dunia ini.
Ada manusia-manusia yang cerita hidupnya menjadi kenangan indah. Menjadi cerita yang baik setelah kematiannya. Yang meninggalkan warisan terbaik—bukan berupa harta, melainkan cerita hidup (sejarah) yang harum, inspiratif, dan menjadi pelita bagi generasi setelahnya.
Seperti para Nabi, para wali. Bahkan karena banyak orang berziarah ke makamnya (kuburan) membawa dampak ekonomi bagi penduduk sekitarnya. Setelah mati pun menebarkan keberkahan bagi mereka yang masih hidup. Seperti pepatah Arab " Banyak orang yang sudah mati, namun namanya tetap hidup. Dan banyak orang yang masih hidup, namun namanya sudah mati."
Begitupun kita diberi pelajaran oleh Allah tentang cerita buruk seorang manusia dikarenakan tabiat buruknya yakni Fir’aun. Fir'aun menjadi simbol absolut dari kezaliman, kesombongan, dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).
Saking betapa buruknya Fir’aun, rasa-rasanya tak ada seorang ayah yang rela memberi nama anaknya Fir’aun. Bahkan kata fir’aun dalam konteks sosial dan keagamaan, sering dijadikan kiasan (metafora) untuk menggambarkan perilaku atau sifat negatif yang ekstrem. Orang pun tersinggung—marah jika dijuluki Fir’aun.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!