VISI | Bertanya
Oleh Drajat
BELUM lama ini penulis diundang menjadi dosen tamu di sebuah universitas. Rasanya seperti nostalgia sekaligus tantangan baru. Biasanya penulis berhadapan dengan siswa sekolah dasar atau menengah, kini berhadapan dengan mahasiswa Gen Z yang datang dari berbagai daerah dengan semangat muda dan ekspresi khas mereka. Topik yang penulis bawakan sederhana, tapi bermakna: “Guru yang Menulis.”
Penulis memulai dengan pertanyaan ringan, “Siapa di antara kalian yang gemar membaca?” Hanya beberapa tangan terangkat, itupun ragu. Maka penulis tekankan, jika ingin tampil beda, mandiri, dan percaya diri—maka membaca adalah hukumnya wajib. Bacalah minimal lima menit sehari, tingkatkan perlahan. Jangan lupa buat catatan kecil dari setiap bacaan, dan biasakan bertanya tentang hal yang belum dipahami.
Penulis lanjutkan dengan kalimat yang sering penulis pakai di kelas, “Orang cerdas itu malunya sekali saat bertanya, tapi cerdasnya seumur hidup. Sebaliknya, orang yang tidak mau bertanya, bodohnya bisa selamanya.” Kelas hening. Tak ada tangan terangkat, tak ada suara. Penulis biarkan sejenak. Lalu penulis keluarkan sebuah pulpen dari saku.
“Sekarang,” kata penulis, “silakan bertanya apa pun tentang pulpen ini.”
Tiba-tiba suasana berubah. Mereka berebut bertanya: “Pulpen itu mereknya apa?” “Berapa harganya?” “Dibeli di mana?” Hingga pertanyaan yang lebih menarik muncul: “Mengapa pulpen diciptakan?” “Bagaimana tinta bisa keluar tanpa tumpah?”
Hanya dengan satu benda sederhana, mereka berani berbicara. Penulis tersenyum. Rupanya, mereka hanya perlu sedikit ruang dan pancingan. Tapi penulis juga sedih. Budaya bertanya, apalagi bertanya secara kritis, masih sangat minim. Bukan karena mereka tidak bisa, melainkan karena tidak dibiasakan.
Penulis kemudian teringat, hal serupa juga terjadi di ruang guru, di forum rapat sekolah, atau musyawarah dengan kepala sekolah. Banyak guru yang ingin mengemukakan pendapat, tapi memilih diam. Setelah rapat usai, barulah muncul komentar, “Sebenarnya saya mau bertanya, tapi takut salah.” Atau bahkan, “Kalau kita bertanya, nanti dianggap melawan.”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!