VISI | Bekerja dalam Sunyi
Kita sering memuja hasil, tapi lupa menghormati proses. Kita merayakan kesuksesan anak bangsa, tapi alpa mengingat siapa yang menanamkan nilai-nilai kesuksesan itu sejak dini. Guru adalah pengrajin karakter. Mereka menatah logika, mengasah nurani, menanamkan etika, dan menumbuhkan cinta. Ketika satu generasi kehilangan arah, mungkin bukan karena mereka kurang pintar, melainkan karena mereka kehilangan sentuhan tangan guru yang penuh kasih dan keteladanan.
Fenomena hari ini sungguh mengusik nurani: guru dianggap salah ketika mendidik dengan tegas, tapi disalahkan pula bila peserta didik kehilangan arah. Guru dipaksa menjadi penjaga moral tanpa diberi perlindungan moral. Padahal, yang mereka lakukan hanyalah menjalankan tugas suci: menjaga anak-anak bangsa agar tak tergelincir di jalan yang salah.
Lalu, ke mana suara keadilan untuk mereka? Bukankah sudah seharusnya negara hadir bukan hanya dengan slogan “Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,” tetapi juga dengan kebijakan yang benar-benar melindungi dan menghargai profesinya? Sudah waktunya negeri ini menegakkan payung hukum yang melindungi guru dari kriminalisasi moral. Jangan biarkan pendidik hidup dalam ketakutan hanya karena menjalankan kewajibannya.
Bekerja dalam sunyi bukan berarti diam terhadap ketidakadilan. Guru hanya memilih jalan yang lembut dalam menghadapi kerasnya dunia. Mereka tetap tersenyum ketika difitnah, tetap mengajar saat dihina, tetap menulis nilai dengan jujur saat banyak yang memilih jalan pintas. Mereka tahu, tugas mendidik bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga menyalakan lilin di tengah kegelapan.
Kita berutang banyak pada mereka. Maka sudah sepatutnya kita membalas bukan dengan kata manis, tetapi dengan kebijakan yang berpihak, penghormatan yang nyata, dan kepercayaan yang utuh. Guru tidak meminta pujian, tapi perlakuan yang adil. Mereka tidak haus penghargaan, tapi ingin dihargai.
Dan hingga akhir hayatnya, guru sejati akan tetap bekerja dalam sunyi—karena mereka tahu, cahaya yang sesungguhnya tidak perlu berteriak untuk bersinar. Ia cukup hadir, menyala pelan, dan menerangi dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!