VISI | Bekerja dalam Sunyi

ED
Jumat, 7 November 2025 | 03:58 WIB
Bagikan
VISI | Bekerja dalam Sunyi

Oleh Drajat

ADA satu keindahan yang tak tergantikan bagi seorang guru—yaitu saat melihat perubahan pada peserta didiknya. Sebuah perubahan yang tumbuh perlahan, kadang tak kasat mata, tapi nyata dalam perilaku dan cara berpikir mereka. Dari anak yang dulu canggung menjadi pribadi yang santun; dari yang acuh menjadi peduli; dari yang hanya mengejar nilai menjadi pencari makna. Itulah kebahagiaan paling murni bagi seorang guru—melihat bunga pengetahuan dan karakter mekar di taman kehidupan anak bangsa.

Namun, di tengah derasnya arus perubahan zaman, profesi mulia ini seperti terus diuji. Guru tidak hanya dituntut mendidik, tapi juga menahan luka. Tidak sedikit kisah yang membuat hati miris: seorang guru menegur siswa yang merokok, lalu diprotes orang tua bahkan diadukan ke aparat; seorang kepala sekolah diberhentikan karena menegakkan disiplin pada anak pejabat; atau guru yang membantu rekan dalam urusan pendidikan justru dituding melanggar etika birokrasi. Sungguh, seolah dunia kini terbalik. Yang benar tampak salah, yang mendidik justru dipersalahkan.

Guru adalah sosok yang bekerja dalam sunyi. Mereka bukan penghibur yang ditunggu tepuk tangan, bukan pula politisi yang mengejar popularitas. Mereka adalah penjaga peradaban, menanam nilai-nilai luhur tanpa berharap balasan. Pagi-pagi mereka datang, membuka pintu kelas, menyiapkan pelajaran, lalu pulang membawa tumpukan kertas ujian dan segenggam rasa lelah yang tertahan. Tapi esoknya, mereka tetap kembali dengan senyum yang sama. Karena bagi mereka, mendidik bukan sekadar pekerjaan—melainkan ibadah, panggilan nurani, dan janji kepada Tuhan.

Sayangnya, negara sering kali absen ketika guru terluka. Saat mereka difitnah, dihukum, atau dilupakan, tak jarang suara pembelaan tak terdengar. Padahal, di pundak merekalah masa depan bangsa disandarkan. Tidak ada profesi yang tak pernah disentuh tangan guru. Setiap pejabat, setiap pemimpin, setiap pengusaha, setiap orang berilmu—semuanya lahir dari ruang-ruang kelas yang dijaga oleh sosok pendidik yang tekun dan ikhlas.

Kita sering memuja hasil, tapi lupa menghormati proses. Kita merayakan kesuksesan anak bangsa, tapi alpa mengingat siapa yang menanamkan nilai-nilai kesuksesan itu sejak dini. Guru adalah pengrajin karakter. Mereka menatah logika, mengasah nurani, menanamkan etika, dan menumbuhkan cinta. Ketika satu generasi kehilangan arah, mungkin bukan karena mereka kurang pintar, melainkan karena mereka kehilangan sentuhan tangan guru yang penuh kasih dan keteladanan.

Fenomena hari ini sungguh mengusik nurani: guru dianggap salah ketika mendidik dengan tegas, tapi disalahkan pula bila peserta didik kehilangan arah. Guru dipaksa menjadi penjaga moral tanpa diberi perlindungan moral. Padahal, yang mereka lakukan hanyalah menjalankan tugas suci: menjaga anak-anak bangsa agar tak tergelincir di jalan yang salah.

Lalu, ke mana suara keadilan untuk mereka? Bukankah sudah seharusnya negara hadir bukan hanya dengan slogan “Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,” tetapi juga dengan kebijakan yang benar-benar melindungi dan menghargai profesinya? Sudah waktunya negeri ini menegakkan payung hukum yang melindungi guru dari kriminalisasi moral. Jangan biarkan pendidik hidup dalam ketakutan hanya karena menjalankan kewajibannya.

Bekerja dalam sunyi bukan berarti diam terhadap ketidakadilan. Guru hanya memilih jalan yang lembut dalam menghadapi kerasnya dunia. Mereka tetap tersenyum ketika difitnah, tetap mengajar saat dihina, tetap menulis nilai dengan jujur saat banyak yang memilih jalan pintas. Mereka tahu, tugas mendidik bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga menyalakan lilin di tengah kegelapan.

Kita berutang banyak pada mereka. Maka sudah sepatutnya kita membalas bukan dengan kata manis, tetapi dengan kebijakan yang berpihak, penghormatan yang nyata, dan kepercayaan yang utuh. Guru tidak meminta pujian, tapi perlakuan yang adil. Mereka tidak haus penghargaan, tapi ingin dihargai.

Dan hingga akhir hayatnya, guru sejati akan tetap bekerja dalam sunyi—karena mereka tahu, cahaya yang sesungguhnya tidak perlu berteriak untuk bersinar. Ia cukup hadir, menyala pelan, dan menerangi dunia.

Semoga negeri ini tak lagi tuli terhadap jeritan hati para pendidik. Karena jika guru terus diperlakukan seperti lilin yang dibiarkan meleleh tanpa dijaga nyalanya, maka cepat atau lambat, bangsa ini akan kehilangan cahayanya. Dan ketika itu terjadi, bukan guru yang rugi, tapi masa depan kita sendiri.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.