VISI | Bekerja dalam Sunyi
Oleh Drajat
- Doktor Ilmu Pendidikan,
- Wasekjen Komnasdik,
- Hipnoterapis,
- Pengurus APKS PGRI Jawa Barat,
- Guru SMP N 1 Cangkuang, Kab. Bandung
ADA satu keindahan yang tak tergantikan bagi seorang guru—yaitu saat melihat perubahan pada peserta didiknya. Sebuah perubahan yang tumbuh perlahan, kadang tak kasat mata, tapi nyata dalam perilaku dan cara berpikir mereka. Dari anak yang dulu canggung menjadi pribadi yang santun; dari yang acuh menjadi peduli; dari yang hanya mengejar nilai menjadi pencari makna. Itulah kebahagiaan paling murni bagi seorang guru—melihat bunga pengetahuan dan karakter mekar di taman kehidupan anak bangsa.
Namun, di tengah derasnya arus perubahan zaman, profesi mulia ini seperti terus diuji. Guru tidak hanya dituntut mendidik, tapi juga menahan luka. Tidak sedikit kisah yang membuat hati miris: seorang guru menegur siswa yang merokok, lalu diprotes orang tua bahkan diadukan ke aparat; seorang kepala sekolah diberhentikan karena menegakkan disiplin pada anak pejabat; atau guru yang membantu rekan dalam urusan pendidikan justru dituding melanggar etika birokrasi. Sungguh, seolah dunia kini terbalik. Yang benar tampak salah, yang mendidik justru dipersalahkan.
Guru adalah sosok yang bekerja dalam sunyi. Mereka bukan penghibur yang ditunggu tepuk tangan, bukan pula politisi yang mengejar popularitas. Mereka adalah penjaga peradaban, menanam nilai-nilai luhur tanpa berharap balasan. Pagi-pagi mereka datang, membuka pintu kelas, menyiapkan pelajaran, lalu pulang membawa tumpukan kertas ujian dan segenggam rasa lelah yang tertahan. Tapi esoknya, mereka tetap kembali dengan senyum yang sama. Karena bagi mereka, mendidik bukan sekadar pekerjaan—melainkan ibadah, panggilan nurani, dan janji kepada Tuhan.
Sayangnya, negara sering kali absen ketika guru terluka. Saat mereka difitnah, dihukum, atau dilupakan, tak jarang suara pembelaan tak terdengar. Padahal, di pundak merekalah masa depan bangsa disandarkan. Tidak ada profesi yang tak pernah disentuh tangan guru. Setiap pejabat, setiap pemimpin, setiap pengusaha, setiap orang berilmu—semuanya lahir dari ruang-ruang kelas yang dijaga oleh sosok pendidik yang tekun dan ikhlas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!