VISI | Begal dan Jalan Siliwangi Baleendah
Oleh Aep S. Abdullah
JALAN Siliwangi di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, telah lama menjadi sorotan. Bukan karena keindahan lanskap atau geliat ekonominya, melainkan karena reputasinya sebagai kawasan rawan kejahatan. Dalam beberapa tahun lalu, warga setempat menyebutnya sebagai “jalur horor”, terutama pada malam hari. Sebuah julukan yang bukan tanpa dasar, mengingat kerapnya terjadi kasus pembegalan dan aksi kekerasan yang diduga kuat dilakukan oleh geng motor.
Polsek Baleendah sering mendapat laporan pembegalan di sekitar Jalan Siliwangi. Namun, jumlah ini diyakini hanya puncak dari gunung es. Dalam laporan sebuah LSM tahun 2023, disebutkan bahwa lebih dari 50% warga korban kejahatan jalanan di Baleendah tidak melapor ke polisi, dengan alasan takut akan balas dendam, trauma, atau merasa tidak akan mendapatkan hasil.
Rabu malam, 9 Juli 2025, menjadi titik terang. Dua pemuda yang mencurigakan berhasil diamankan oleh personel Polsek Baleendah yang dipimpin langsung oleh Kapolsek AKP Hendri Noki Rukmansyah. Salah satu dari mereka kedapatan membawa senjata tajam. Keberhasilan ini menjadi sinyal bahwa negara masih hadir, dan aparat masih mampu memberikan rasa aman bila diberikan dukungan operasional yang cukup.
Sayangnya, tindakan represif semata tidak akan menyelesaikan akar persoalan. Geng motor tidak muncul dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari akar sosial yang keropos — rendahnya akses pendidikan, ketiadaan ruang berekspresi, kemiskinan struktural, serta kegagalan komunitas dalam membina generasi mudanya.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka usia 15–24 tahun di Baleendah mencapai 13,7% pada 2023 — lebih tinggi dibanding rata-rata kabupaten sebesar 10,4%. Kondisi ini mendorong sebagian pemuda mencari "identitas" alternatif melalui komunitas destruktif seperti geng motor.
Menurut Laporan Kemendikbud 2022, 22% anak usia SMA di Kabupaten Bandung tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Rendahnya literasi digital, minimnya kegiatan ekstrakurikuler, serta kurangnya pendidikan karakter menjadikan remaja lebih mudah terpapar pada lingkungan yang menyimpang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!