VISI | Begal dan Jalan Siliwangi Baleendah

ED
Kamis, 10 Juli 2025 | 08:24 WIB
Bagikan
VISI | Begal dan Jalan Siliwangi Baleendah

Oleh Aep S. Abdullah

JALAN Siliwangi di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, telah lama menjadi sorotan. Bukan karena keindahan lanskap atau geliat ekonominya, melainkan karena reputasinya sebagai kawasan rawan kejahatan. Dalam beberapa tahun lalu, warga setempat menyebutnya sebagai “jalur horor”, terutama pada malam hari. Sebuah julukan yang bukan tanpa dasar, mengingat kerapnya terjadi kasus pembegalan dan aksi kekerasan yang diduga kuat dilakukan oleh geng motor.

Polsek Baleendah sering mendapat laporan pembegalan di sekitar Jalan Siliwangi. Namun, jumlah ini diyakini hanya puncak dari gunung es. Dalam laporan sebuah LSM tahun 2023, disebutkan bahwa lebih dari 50% warga korban kejahatan jalanan di Baleendah tidak melapor ke polisi, dengan alasan takut akan balas dendam, trauma, atau merasa tidak akan mendapatkan hasil.

Rabu malam, 9 Juli 2025, menjadi titik terang. Dua pemuda yang mencurigakan berhasil diamankan oleh personel Polsek Baleendah yang dipimpin langsung oleh Kapolsek AKP Hendri Noki Rukmansyah. Salah satu dari mereka kedapatan membawa senjata tajam. Keberhasilan ini menjadi sinyal bahwa negara masih hadir, dan aparat masih mampu memberikan rasa aman bila diberikan dukungan operasional yang cukup.

Sayangnya, tindakan represif semata tidak akan menyelesaikan akar persoalan. Geng motor tidak muncul dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari akar sosial yang keropos — rendahnya akses pendidikan, ketiadaan ruang berekspresi, kemiskinan struktural, serta kegagalan komunitas dalam membina generasi mudanya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka usia 15–24 tahun di Baleendah mencapai 13,7% pada 2023 — lebih tinggi dibanding rata-rata kabupaten sebesar 10,4%. Kondisi ini mendorong sebagian pemuda mencari "identitas" alternatif melalui komunitas destruktif seperti geng motor.

Menurut Laporan Kemendikbud 2022, 22% anak usia SMA di Kabupaten Bandung tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Rendahnya literasi digital, minimnya kegiatan ekstrakurikuler, serta kurangnya pendidikan karakter menjadikan remaja lebih mudah terpapar pada lingkungan yang menyimpang.

Penangkapan dua pemuda pada 9 Juli lalu harus dijadikan momen refleksi bahwa kerja polisi tidak boleh hanya insidental. Kehadiran polisi di titik rawan seperti Jalan Siliwangi harus bersifat rutin dan terlihat. Patroli malam, operasi senyap, hingga pemasangan CCTV aktif adalah langkah minimal yang harus diambil oleh pemerintah daerah.

Kapolresta Bandung, Kombes Pol Aldi Subartono, telah membuka hotline pengaduan gangguan kamtibmas sebagai wadah bagi masyarakat untuk melaporkan indikasi kejahatan secara langsung dan anonim. Ini merupakan langkah positif dalam menjembatani ketakutan warga terhadap pelaporan kasus geng motor yang dikenal intimidatif.

Namun hotline saja tidak cukup. Harus ada jaminan bahwa setiap laporan ditindaklanjuti. Transparansi dalam pengelolaan laporan dan pelibatan masyarakat sipil dalam pemantauan bisa menjadi alat untuk mendorong akuntabilitas. Jika tidak, warga akan kembali diam, dan geng motor akan kembali berkuasa di jalanan.

Selain represif dan pelaporan, pendekatan preventif menjadi sangat penting. Pemerintah Kabupaten Bandung perlu bekerja sama dengan organisasi kepemudaan, karang taruna, dan sekolah-sekolah untuk menciptakan ruang kegiatan alternatif. Kompetisi seni, pelatihan kerja, dan program magang lokal bisa menjadi solusi nyata agar anak muda tidak terseret arus destruktif.

Keterlibatan sekolah dan orang tua juga krusial. Menurut studi Pusat Kajian Kriminologi UI (2022), sebagian besar pelaku kejahatan jalanan remaja berasal dari keluarga yang minim kontrol sosial atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Intervensi sejak dini dalam bentuk konseling keluarga atau dukungan psikososial harus diperkuat.

Tokoh agama, pemuda masjid, serta pengurus RT/RW perlu digandeng menjadi agen perubahan. Mereka memiliki kedekatan emosional dengan warga dan sering kali lebih dipercaya ketimbang aparat formal. Melalui pendekatan persuasif dan religius, remaja bisa diarahkan pada kegiatan produktif dan positif.

Kejahatan di Jalan Siliwangi menunjukkan bahwa kita tidak bisa menyerahkan urusan keamanan hanya kepada polisi. Ini adalah persoalan bersama yang menuntut kolaborasi: antara warga, tokoh masyarakat, aparat, dan pemerintah daerah. Jika tidak dilakukan sekarang, kita hanya akan menunggu korban berikutnya.

Apresiasi kepada Kapolsek Baleendah dan timnya patut diberikan, namun ini bukan titik akhir. Harus ada investigasi lanjutan: siapa saja yang sering terlibat dalam aksi begal motor di wilayah ini? Apakah ada kaitan dengan kelompok terorganisir lain? Apakah senjata tajam yang dibawa menjadi bagian dari pola rekrutmen baru?

Jalan Siliwangi harus kembali menjadi milik warga, bukan begal motor. Untuk itu, dibutuhkan keberanian struktural dan kultural. Keberanian aparat untuk tegas, keberanian pemerintah untuk menata, dan keberanian warga untuk bersuara. Jalan ini bukan tempat ketakutan, melainkan jalur kehidupan yang harus dijaga bersama.

Geng motor dan begal bukan hanya soal kriminalitas, tapi cermin retaknya sistem sosial kita. Penangkapan 9 Juli adalah harapan kecil bahwa sistem masih bisa bekerja. Tapi untuk perubahan besar, dibutuhkan keberanian kolektif untuk berkata cukup — dan bersama-sama mengambil kembali ruang publik yang telah lama kita biarkan dalam gelap.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.