VISI | Asyiknya MBG!
Lalu pertanyaannya sederhana: Apakah guru dilatih untuk itu? Guru adalah pendidik profesional. Ia harus fokus pada proses belajar, pendampingan emosi anak, pembentukan karakter, dan pencapaian kompetensi. Jika guru disibukkan dengan urusan teknis MBG, maka energi guru habis sebelum mengajar.
Yang lebih ironis, ada seloroh yang mulai terdengar: “Lebih baik jadi petugas MBG daripada jadi guru honorer atau guru P3K.” Seloroh memang seloroh. Tapi biasanya seloroh lahir dari rasa yang nyata: ketidakadilan, ketimpangan, dan luka profesionalisme. Anomali: Dana Pendidikan, Tapi Pendidikan Terlewatkan
Inilah bagian yang paling menggelitik sekaligus menyakitkan. MBG dibiayai dari anggaran besar. Kita semua tahu itu. Dan sering kali dikaitkan dengan “dana pendidikan”.
Pertanyaannya: Jika uang besar digelontorkan atas nama pendidikan, mengapa proses pendidikannya justru terganggu? Bukankah dana pendidikan seharusnya memperkuat: kualitas guru, sarana belajar, laboratorium, perpustakaan, literasi, pelatihan pedagogik, kesejahteraan tenaga pendidik, dan ekosistem pembelajaran?
Namun yang terlihat di lapangan, kadang sekolah seperti “panggung distribusi”. Pendidikan menjadi latar belakang. Ini yang saya sebut sebagai anomali pendidikan: program baik yang justru berpotensi melemahkan inti pendidikan jika tidak ditata dengan benar. Kita sedang mengobati satu masalah (gizi), tetapi berpotensi menumbuhkan masalah baru (penurunan kualitas belajar).
Penulis sampaikan dengan jujur dan terang: Anak yang kenyang tapi tidak belajar, adalah risiko besar bangsa. Karena gizi tanpa pendidikan akan melahirkan generasi kuat secara fisik, tetapi rapuh secara berpikir. Dan bangsa yang rapuh secara berpikir akan mudah dikendalikan, mudah ditipu, mudah terpecah, dan sulit maju. Sekolah seharusnya bukan hanya tempat makan, tapi tempat tumbuh. MBG boleh jadi penguat. Tapi tidak boleh menjadi pusat.
Evaluasi: Sudah Sejauh Mana?
Pertanyaan yang sering tidak ditanyakan: Sudah sejauh mana evaluasi MBG dilakukan? Apa indikator keberhasilannya? Apakah benar berdampak pada konsentrasi belajar? Apakah benar meningkatkan kehadiran? Apakah benar meningkatkan capaian literasi dan numerasi? Apakah ada penurunan jam efektif pembelajaran? Bagaimana desain agar tidak mengganggu pembelajaran?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!