BMKG: Cuaca Bandung Hari Ini Didominasi Berawan, Suhu Berkisar 16-28 Derajat Celsius 12 Jul 2026 Akademi Persib Bandung Lolos Final Hydroplus Soccer League U18 11 Jul 2026 Ole Romeny Tinggalkan Oxford United Gabung Fortuna Sittard 11 Jul 2026 Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi 11 Jul 2026 Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di JIS 2027 11 Jul 2026 Profil Tan Kian Konglomerat Properti yang Disorot Kasus Asabri 11 Jul 2026 Arus Kendaraan Menuju Sukabumi Meningkat di Momen Akhir Libur Sekolah 11 Jul 2026 Polisi Periksa 15 Saksi Usai Geledah 12 Lokasi, Termasuk Tan Kian 11 Jul 2026 Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Kejagung 11 Jul 2026 Conor McGregor Kembali Hadapi Max Holloway di UFC 329 11 Jul 2026 BMKG: Cuaca Bandung Hari Ini Didominasi Berawan, Suhu Berkisar 16-28 Derajat Celsius 12 Jul 2026 Akademi Persib Bandung Lolos Final Hydroplus Soccer League U18 11 Jul 2026 Ole Romeny Tinggalkan Oxford United Gabung Fortuna Sittard 11 Jul 2026 Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi 11 Jul 2026 Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di JIS 2027 11 Jul 2026 Profil Tan Kian Konglomerat Properti yang Disorot Kasus Asabri 11 Jul 2026 Arus Kendaraan Menuju Sukabumi Meningkat di Momen Akhir Libur Sekolah 11 Jul 2026 Polisi Periksa 15 Saksi Usai Geledah 12 Lokasi, Termasuk Tan Kian 11 Jul 2026 Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Kejagung 11 Jul 2026 Conor McGregor Kembali Hadapi Max Holloway di UFC 329 11 Jul 2026

VISI | Asiknya Melepaskan Jabatan

Desi Rossilawati
Selasa, 19 Mei 2026 | 06:59 WIB
Bagikan
VISI | Asiknya Melepaskan Jabatan
Oleh Drajat
  • Guru
  • Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
  • Wasekjen Komnasdik
  • Hipnoterapis
  • APKS PGRI Prov. Jabar
SUDAH lebih dari tiga dekade penulis menikmati dunia yang bernama sekolah. Dunia yang bagi sebagian orang terasa biasa saja, tetapi bagi seorang guru, ia adalah ruang kehidupan yang penuh warna. Di sanalah penulis belajar bahwa manusia adalah makhluk paling unik yang pernah diciptakan Tuhan. Setiap anak datang dengan karakter, mimpi, tingkah, dan caranya masing-masing dalam menikmati hidup. Dan jujur saja, salah satu pemandangan paling indah di sekolah bukanlah ketika upacara megah atau pidato panjang penuh jargon. Pemandangan paling jujur justru terjadi saat bel istirahat berbunyi. Mereka berhamburan seperti burung yang baru lepas dari sangkar. Wajah-wajah kecil itu mendadak berubah cerah. Teriakan, tawa, cerita, hingga kejar-kejaran menjadi simfoni paling alami di lingkungan sekolah. Namun coba perhatikan sebaliknya. Ketika bel masuk berbunyi, terutama saat mereka sedang asyik bermain bola, bercanda, atau menikmati dunia kecilnya, spontan wajah mereka berubah. Ada yang mengeluh, ada yang pura-pura belum dengar, bahkan ada yang berjalan sangat lambat menuju kelas. Di situlah penulis mulai memahami satu hal penting: manusia akan menikmati sesuatu ketika ia merasa nyaman dan terlibat di dalamnya. Kesadaran itulah yang perlahan mengubah cara penulis mengajar, terutama ketika mengajarkan matematika pelajaran yang sejak lama dianggap “menakutkan”. Penulis mulai mencoba masuk ke dunia mereka: lebih banyak dialog, lebih banyak permainan berpikir, lebih banyak cerita, dan lebih banyak penghargaan kecil yang membuat mereka merasa dihargai. Pelan tapi pasti, suasana berubah. Matematika yang dulu dianggap beban mulai terasa lebih bersahabat. Bahkan tidak sedikit siswa yang mulai berkata: “Pak, ternyata matematika itu asyik.” Bagi seorang guru, kalimat sederhana seperti itu jauh lebih mahal daripada sekadar angka nilai. Karena pendidikan sejatinya bukan hanya tentang membuat anak bisa menjawab soal, tetapi membuat mereka menikmati proses belajar. Yang lebih menarik lagi, pembelajaran ternyata tidak berhenti pada angka dan rumus. Di ruang kelas itu, anak-anak mulai belajar: bagaimana bersikap jujur, bagaimana menghargai teman, dan bagaimana memahami mana yang baik dan mana yang tidak. Kadang penulis tersenyum sendiri ketika mendengar mereka mulai berkata: “Pak, ternyata jujur itu enak ya…” Kalimat itu sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam. Karena di tengah dunia yang semakin gaduh oleh kepalsuan, anak-anak justru masih mampu menemukan kebahagiaan dari kejujuran. Ada satu kegiatan sederhana yang rutin dilakukan di kelas: setiap satu bulan sekali, siswa bergantian menjadi Ketua Murid atau KM. Mungkin terlihat biasa. Namun di situlah pelajaran hidup yang sesungguhnya dimulai. Saat memakai “jabatan” itu, mendadak mereka berubah: lebih serius, lebih sibuk, dan lebih banyak berpikir. Mereka mulai merasakan bagaimana sulitnya: mengatur teman, menjaga ketertiban, menyampaikan amanah guru, bahkan menghadapi protes teman sendiri. Di situlah mereka belajar bahwa menjadi pemimpin ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Namun ada satu momen yang paling menarik. Ketika masa jabatan selesai, sebagian dari mereka terlihat sangat lega. Bahkan sambil tertawa mereka berkata: “Pak… ternyata enakan jadi anggota…” Yang lebih lucu lagi, ada yang dengan jujur mengaku: “Saya nggak kuat, Pak.” Dan anehnya, penulis justru menikmati momen itu. Karena di usia mereka yang masih sangat muda, mereka sudah belajar sesuatu yang tidak semua orang dewasa mampu lakukan: berani mengakui keterbatasan. Mereka tidak memaksakan diri. Mereka tidak haus jabatan. Mereka tidak mempertahankan posisi mati-matian. Mereka justru menikmati saat melepaskan amanah yang dirasa berat. Dan di situlah penulis menemukan makna besar: asyiknya melepaskan jabatan. Ironisnya, pelajaran sederhana dari ruang kelas itu justru sering hilang ketika manusia tumbuh dewasa. Di luar sana, banyak orang: mati-matian mempertahankan jabatan, tidak mau diganti, tidak mau dikritik, bahkan rela mengorbankan nurani demi kekuasaan. Padahal jelas-jelas: tidak mampu, tidak becus, dan tidak lagi dipercaya. Namun tetap bertahan. Mengapa? Karena jabatan bagi sebagian orang bukan lagi amanah, tetapi kenikmatan. Hari ini kita menyaksikan fenomena yang semakin mengkhawatirkan. Ketika negeri sedang tidak baik-baik saja, justru banyak pemimpin terlihat kehilangan kepekaan. Kritik dianggap ancaman. Masukan dianggap gangguan. Kekuasaan dipertahankan seolah-olah abadi. Padahal sejarah selalu mengajarkan: tidak ada jabatan yang kekal. Namun sayangnya, banyak yang lupa bahwa semakin lama mempertahankan kekuasaan tanpa kemampuan, maka semakin besar kerusakan yang ditinggalkan. Dan lucunya, justru anak-anak di ruang kelas yang sering kali lebih bijak. Mereka tahu kapan harus memimpin. Mereka tahu kapan harus mundur. Mereka tahu kapan harus berkata: “Saya tidak sanggup.” Sementara orang dewasa? Kadang semakin tidak mampu, justru semakin ingin dipertahankan. Dari ruang kelas sederhana itu, penulis belajar bahwa jabatan sejatinya hanyalah titipan. Ia bukan simbol kemuliaan. Bukan pula alat untuk dihormati. Jabatan adalah amanah: yang harus dipertanggungjawabkan, yang harus dijalankan dengan hati, dan yang harus siap dilepaskan kapan saja. Karena ukuran pemimpin bukan pada lamanya ia berkuasa, tetapi pada manfaat yang ditinggalkan. Kadang negeri ini terlalu sibuk mencari teori kepemimpinan ke mana-mana, padahal pelajaran paling jujur justru ada di ruang kelas. Anak-anak kecil itu mengajarkan: kejujuran, ketulusan, dan keberanian melepaskan jabatan ketika merasa tidak mampu. Mereka tidak haus kuasa. Mereka tidak takut kehilangan posisi. Mereka justru tertawa bahagia ketika kembali menjadi diri sendiri. Di tengah negeri yang semakin gaduh mempertahankan kekuasaan ini, kita perlu belajar kembali dari anak-anak: bahwa jabatan bukan sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Sebab kadang yang paling membahagiakan bukan saat mendapatkan jabatan, tetapi saat mampu melepaskannya dengan ikhlas.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.