Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026

VISI | Ambigu: Mencari Kejernihan Arah Pendidikan Kita

ED
Senin, 17 November 2025 | 04:28 WIB
Bagikan
VISI | Ambigu: Mencari Kejernihan Arah Pendidikan Kita

Oleh Drajat

DI TENGAH perjalanan panjang dunia pendidikan Indonesia, ada satu kegelisahan yang kian sering bergaung di ruang-ruang diskusi para pendidik: ke mana sebenarnya arah pendidikan kita hendak dibawa? Bukan sekali dua kali pertanyaan ini muncul, tetapi terus berulang dari tahun ke tahun, seiring bergantinya kebijakan, menteri, dan pendekatan yang seharusnya menjadi penuntun masa depan pendidikan nasional.

Para guru—yang setiap hari berdiri di kelas, menata masa depan bangsa dari balik papan tulis dan buku-buku—sering kali berada di persimpangan. Mereka menjalankan tugas dengan dedikasi, namun di saat yang sama harus menghadapi perubahan kebijakan yang kadang tumpang tindih, tidak konsisten, bahkan terkesan reaktif. Kegelisahan itu sesungguhnya bukan bentuk keluhan, melainkan ungkapan cinta para pendidik terhadap profesinya, sekaligus harapan agar pendidikan Indonesia tidak berjalan tanpa arah.

Pendidikan idealnya memiliki payung hukum yang jelas, kokoh, dan berpihak kepada pendidik serta peserta didik. Namun dalam praktiknya, berbagai regulasi sering kali membuat guru berada dalam ketidakpastian. Ada aturan yang lahir tanpa sosialisasi memadai. Ada juknis dan juklak yang berubah di tengah perjalanan. Ada pula kebijakan yang semangatnya baik, tetapi tidak sinkron antara pusat dan daerah.

Dalam kondisi seperti ini, guru seolah diminta berlari tanpa tahu garis finisnya. Mereka bergerak, tetapi tak selalu paham ke mana harus menuju. Sebagian besar pendidik memahami bahwa perubahan itu perlu, bahkan tak terhindarkan. Namun perubahan yang tidak terencana dengan matang justru menghadirkan kebingungan baru. Seyogianya regulasi hadir sebagai rumah besar yang melindungi. Namun kadang rumah itu terasa seperti bangunan yang belum selesai, beratap namun belum bertiang kokoh. Di sinilah pendidik sangat membutuhkan kepastian—bukan janji, bukan jargon—melainkan arah yang jelas dan panduan yang mudah dipahami.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.