VISI | Ambigu: Mencari Kejernihan Arah Pendidikan Kita
Oleh Drajat
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Idonesia
- Guru SMP N 1 Cangkuang, Kabupaten Bandung
- APKS PGRI Provinsi Jawa Barat
DI TENGAH perjalanan panjang dunia pendidikan Indonesia, ada satu kegelisahan yang kian sering bergaung di ruang-ruang diskusi para pendidik: ke mana sebenarnya arah pendidikan kita hendak dibawa? Bukan sekali dua kali pertanyaan ini muncul, tetapi terus berulang dari tahun ke tahun, seiring bergantinya kebijakan, menteri, dan pendekatan yang seharusnya menjadi penuntun masa depan pendidikan nasional.
Para guru—yang setiap hari berdiri di kelas, menata masa depan bangsa dari balik papan tulis dan buku-buku—sering kali berada di persimpangan. Mereka menjalankan tugas dengan dedikasi, namun di saat yang sama harus menghadapi perubahan kebijakan yang kadang tumpang tindih, tidak konsisten, bahkan terkesan reaktif. Kegelisahan itu sesungguhnya bukan bentuk keluhan, melainkan ungkapan cinta para pendidik terhadap profesinya, sekaligus harapan agar pendidikan Indonesia tidak berjalan tanpa arah.
Pendidikan idealnya memiliki payung hukum yang jelas, kokoh, dan berpihak kepada pendidik serta peserta didik. Namun dalam praktiknya, berbagai regulasi sering kali membuat guru berada dalam ketidakpastian. Ada aturan yang lahir tanpa sosialisasi memadai. Ada juknis dan juklak yang berubah di tengah perjalanan. Ada pula kebijakan yang semangatnya baik, tetapi tidak sinkron antara pusat dan daerah.
Dalam kondisi seperti ini, guru seolah diminta berlari tanpa tahu garis finisnya. Mereka bergerak, tetapi tak selalu paham ke mana harus menuju. Sebagian besar pendidik memahami bahwa perubahan itu perlu, bahkan tak terhindarkan. Namun perubahan yang tidak terencana dengan matang justru menghadirkan kebingungan baru. Seyogianya regulasi hadir sebagai rumah besar yang melindungi. Namun kadang rumah itu terasa seperti bangunan yang belum selesai, beratap namun belum bertiang kokoh. Di sinilah pendidik sangat membutuhkan kepastian—bukan janji, bukan jargon—melainkan arah yang jelas dan panduan yang mudah dipahami.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!