Untuk Perangi Dampak Hoaks, Kelompok Kerja Anti Disinformasi Digital di Indonesia Diluncurkan

ED
Senin, 2 September 2024 | 11:27 WIB
Bagikan
Untuk Perangi Dampak Hoaks, Kelompok Kerja Anti Disinformasi Digital di Indonesia Diluncurkan

Berikut sejumlah kegiatan utama yang akan dilakukan KONDISI:

Penelitian dan Analisis: Mengembangkan studi tentang cara disinformasi menyebar dan dampaknya terhadap opini publik serta kebijakan.

Edukasi dan Pelatihan: Menyediakan pelatihan untuk jurnalis, akademisi, dan masyarakat umum tentang cara mengidentifikasi dan menangani disinformasi.

Kampanye Literasi Digital untuk Publik: Meluncurkan inisiatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya verifikasi informasi dan dampak negatif dari berita palsu.

Kolaborasi dengan Pihak Berkepentingan: Bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan dalam ekosistem informasi untuk menciptakan kebijakan dan strategi yang lebih baik dalam menangani disinformasi.

KONDISI berharap untuk menjadi garda terdepan dalam memerangi disinformasi dan berkontribusi pada pembangunan masyarakat informasi yang sehat di Indonesia. Dalam peluncurannya, kelompok kerja ini juga mengundang berbagai pihak untuk bergabung dan berkolaborasi dalam upaya bersama melawan berita palsu.

Berikut ini adalah daftar penggiat KONDISI:

  1. Damar Juniarto, dosen UPN Veteran Jakarta dan pendiri PIKAT Demokrasi (Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial dan Teknologi untuk Demokrasi)
  2. Harry Sufehmi, Co-Founder MAFINDO dan Cyberity
  3. Ignatius Haryanto, Kepala Program Studi Magister Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Direktur LSPP. mantan wartawan Forum Keadilan, D&R, dan Tempo.
  4. Mohammad Heychael, dosen Universitas Indonesia dan Universitas Multimedia Nusantara, peneliti dan mantan Direktur Remotivi
  5. Eriyanto, dosen Universitas Indonesia, peneliti LSI
  6. Wahyu Dhyatmika, mantan pemimpin redaksi Tempo.co, Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia
  7. Eva Danayanti, Program Manager  International Media Support (IMS), mantan Executive Director AJI Indonesia
  8. Santi Indra Astuti, dosen Fikom UNISBA, Litbang Mafindo dan Japelidi
  9. Anita Wahid, Mafindo, kandidat Doktor
  10. Imama Lavi, UGM, periset Hoax in 2019 Indonesia Election and Cyber Resilience
  11. Wijayanto, Direktur Center of Media and Democracy LP3ES, Wakil Rektor Riset, Inovasi dan Kerjasama Universitas Diponegoro (UNDIP)
  12. Beltsazar Krisetya, pakar politik digital dan periset Safer Internet Lab (SAIL), CSIS Indonesia
  13. Ratna Ariyanti, eks jurnalis Bisnis Indonesia, kandidat Doktor di Ohio University, AS, dengan fokus pada kolaborasi jurnalistik.
  14. Jati Savitri Sekargati, eks jurnalis Metro TV. kandidat Doktor di Glasgow Caledonian University, Scotland, UK, dengan topik riset tentang misinformasi di Pemilu 2024
  15. Muhammad Hafizh Nabiyyin, Kepala Bidang Kebebasan Berekspresi SAFEnet
  16. Ika Idris, Data & Democracy Research Hub, dosen Monash University Indonesia
  17. Derry Wijaya, Data & Democracy Research Hub, dosen Monash University Indonesia
  18. Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo.

@uli

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.