Febrie Adriansyah Ajukan Dua Gugatan Praperadilan atas Status Tersangka 5 Aug 2026 Rakornas Dukcapil Perkuat Sinergi Layanan Administrasi Kependudukan Nasional 5 Aug 2026 Resmi Dibuka! Link 'War Tiket' Upacara HUT ke-81 RI di Istana 5 Aug 2026 PIHPS: Cabai Rawit Merah Rp45.150, Telur Ayam Rp24.000 per Kg 5 Aug 2026 Harga Emas Antam Turun Rp4.000, Kini Rp2.599.000 per Gram 5 Aug 2026 Disporaparbud Jember Koordinasi dengan BPCB Jatim Amankan Situs Gumuk Lesung dari Kerusakan 5 Aug 2026 Identitas Perempuan Tersambar KA Pangrango di Sukabumi Belum Terungkap 5 Aug 2026 Disdik Sukabumi Sebut Ijazah Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Masih Didata 5 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 5 Agustus 2026 5 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 5 Agustus 2026 5 Aug 2026 Febrie Adriansyah Ajukan Dua Gugatan Praperadilan atas Status Tersangka 5 Aug 2026 Rakornas Dukcapil Perkuat Sinergi Layanan Administrasi Kependudukan Nasional 5 Aug 2026 Resmi Dibuka! Link 'War Tiket' Upacara HUT ke-81 RI di Istana 5 Aug 2026 PIHPS: Cabai Rawit Merah Rp45.150, Telur Ayam Rp24.000 per Kg 5 Aug 2026 Harga Emas Antam Turun Rp4.000, Kini Rp2.599.000 per Gram 5 Aug 2026 Disporaparbud Jember Koordinasi dengan BPCB Jatim Amankan Situs Gumuk Lesung dari Kerusakan 5 Aug 2026 Identitas Perempuan Tersambar KA Pangrango di Sukabumi Belum Terungkap 5 Aug 2026 Disdik Sukabumi Sebut Ijazah Korban Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Masih Didata 5 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 5 Agustus 2026 5 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 5 Agustus 2026 5 Aug 2026

UNS Hibahkan 11 Alat EWS untuk 7 Desa Rawan Longsor Kabupaten Karanganyar

ED
Kamis, 30 Juni 2022 | 20:04 WIB
Bagikan
UNS Hibahkan 11 Alat EWS untuk 7 Desa Rawan Longsor Kabupaten Karanganyar
VISI.NEWS / SOLO - Sebanyak 7 desa di wilayah Kecamatan Tawangmangu, Matesih, Karangpandan, Ngargoyoso dan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, di sisi barat lereng Gunung Lawu yang rawan bencana longsor mendapat bantuan hibah perangkat alat deteksi dini (early warning system=EWS) pemantau pergerakan tanah penyebab bencana longsor. Sebanyak 11 perangkat EWS yang diciptakan dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Dr. Ahmad Marzuki, ditempatkan di 7 desa yang termasuk kategori daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Bantuan hibah 11 EWS outdoor pemantau bencana longsor tersebut, melengkapi bantuan sebelumnya berupa 100 EWS indoor yang telah terpasang di sejumlah titik lokasi rawan bencana longsor sejak 2019 lalu. Dr. Ahmad Marzuki yang merupakan anggota Pusat Studi Bencana (PSB) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, seusai penyerahan 11 EWS dari Dekan FMIPA, Dr. Hardono kepada Kalakhar BPBD Karanganyar, Bagoes Darmadi, menyatakan, bantuan 11 EWS outdoor yang ditempatkan di tempat terbuka berbeda dengan 100 EWS indoor yang dipasang di rumah-rumah warga. "Perbedaan EWS outdoor dengan EWS indoor terletak pada kemampuan jangkauan sensornya. Sensor EWS oudoor mampu menjangkau lingkup luasan tanah bergerak yang lebih besar," ujarnya kepada wartawan, Kamis (30/6/2022). Biaya untuk merancang dan membuat 100 unit perangkat indoor deteksi dini yang ditempatkan di 11 desa di enam kecamatan rawan longsor pada 2019, menurut dosen FMIPA itu, berasal dari dana penelitian Kementrian Ristek-Dikti dalam KRUPT. Sedangkan pembuatan 11 EWS outdoor, dibiayai dana penelitian UNS tahun 2021. Menyinggung pemasangan EWS, kata Ahmad Marzuki, EWS indoor dipasang dengan cara ditempelkan di dinding yang terjadi retakan agar jika ada pergerakan tanah terdeteksi sensor EWS. "Bila tanah bergerak, maka retakan akan melebar dan sensor akan memberikan warning ke penghuni rumah. Sedangkan EWS outdoor adalah pendeteksi longsor di luar ruang yang dipasang menggunakan tiang. Sensor EWS akan bekerja dengan membunyikan alarm ketika tanah mengalami pergeseran," jelasnya. Menanggapi kawasan permukiman rawan bencana longsor di Kabupaten Karanganyar yang sangat luas, anggota PSB LPPM UNS itu, menegaskan, jumlah EWS yang terpasang masih kurang dan dibutuhkan unit sensor longsor lebih banyak. Dia berharap perangkat EWS yang biaya pembuatannya per unit mencapai Rp 75 juta dipelihara agar berfungsi dengan baik. Masyarakat juga diminta menjaga agar perangkat EWS dengan sensor yang sangat sensitif dapat berfungsi untuk mengurangi risiko korban jiwa akibat bencana longsor. @tok

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.