Try Sutrisno Wafat, Prof Didik J Rachbini: Kita Kehilangan Negarawan yang Konsisten Mengkritik Liberalisme
Pada 21 Juli 2025, Try Sutrisno masih tampil sehat dan berpidato lantang dalam acara Pembinaan Ideologi Pancasila di Universitas Indonesia. Dalam forum tersebut, ia menyoroti kecenderungan kehidupan berbangsa yang dinilai semakin liberal dan menjauh dari nilai-nilai Pancasila.
Try menyatakan bahwa amandemen empat kali Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengubah sistem ketatanegaraan secara mendasar. Ia menilai praktik demokrasi Indonesia bahkan lebih liberal dibanding sistem di Amerika Serikat.
Menurutnya, perubahan konstitusi yang dilakukan tanpa kajian mendalam menyisakan berbagai kelemahan setelah lebih dari dua dekade berjalan. Karena itu, ia mendorong evaluasi dan kaji ulang sistem ketatanegaraan agar kembali selaras dengan nilai dasar bangsa.
Sorotan pada Hilangnya Peran MPR sebagai Lembaga Tertinggi
Salah satu poin penting yang disoroti Try Sutrisno adalah perubahan posisi Majelis Permusyawaratan Rakyat yang tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara.
Ia menilai hilangnya peran MPR sebagai pembuat Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) berdampak pada arah pembangunan nasional. Dalam pandangannya, politik jangka pendek lima tahunan yang didorong oleh kepentingan partai politik telah menggeser semangat musyawarah kebangsaan.
Didik menilai kritik tersebut penting untuk menjadi bahan diskursus nasional.
“Beliau mengingatkan bahwa demokrasi adalah sarana untuk mencapai tujuan kemerdekaan, bukan tujuan akhir. Evaluasi diperlukan agar praktik demokrasi tidak melemahkan moral, etika, dan falsafah Pancasila,” ujarnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!