Tinggalkan Harta Rp 27,9 Triliun, The Ning King Wafat — Ini Profilnya
ED
Editor
M Purnama Alam
Senin, 3 November 2025 | 07:45 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - The Ning King, pendiri Argo Manunggal Group dan sosok di balik pengembangan kota mandiri Alam Sutera, wafat pada Minggu (2/11/2025), dalam usia 93 tahun. Ia meninggalkan kekayaan sekitar US$1,8 miliar atau setara Rp 27,9 triliun (kurs Rp 15.500 per dolar).
Dalam pengumuman resmi keluarga, pria kelahiran Bandung, 20 April 1931 itu disebut sebagai sosok hangat, penuh kasih, dan rendah hati. Ia wafat meninggalkan istri Lie Ang Sioe Nio, anak, menantu, serta cucu-cucu yang mendampingi perjalanan hidup dan kiprahnya.
“Kiranya damai dan terang Kasih Kristus senantiasa menyertai dan memberi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan,” tulis manajemen Alam Sutera dalam pernyataan resmi, Minggu. Ucapan belasungkawa juga disampaikan melalui akun Instagram resmi perusahaan.
The Ning King dikenal sebagai salah satu tokoh industri paling berpengaruh di Indonesia, meski lebih memilih hidup low profile. Ia memulai langkah bisnis dari usaha tekstil kecil di Salatiga pada 1961, setelah belajar berdagang dari sang ayah, seorang perantau asal Fujian, Tiongkok.
Momen penting datang pada 1977 ketika ia mendirikan PT Argo Pantes Tbk (ARGO), yang kemudian menjadi perusahaan tekstil pertama yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 7 Januari 1991. Dari fondasi ini, Argo Manunggal Group berkembang menjadi konglomerasi lintas sektor dengan lebih dari 30 perusahaan.
Kini, grup tersebut membawahi berbagai lini utama seperti Industrial by Argo Manunggal (IAM) yang menaungi Cakrasteel, Pralon, dan Fumira, serta divisi lifestyle yang mengoperasikan pabrik tekstil di Tangerang, Salatiga, Bandung, dan Semarang. Grup ini mempekerjakan sekitar 22.000 orang dan mencetak pendapatan tahunan lebih dari US$1,2 miliar.
Warisan terbesar The Ning King di sektor properti adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), pengembang kawasan kota mandiri di Serpong, Tangerang, yang ia dirikan bersama menantunya, Haryanto Tirtohadiguno, pada 1993. Proyek-proyek ikonik seperti Mall @ Alam Sutera, Flavor Bliss, The Tower, hingga Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali lahir dari visinya.
Selain itu, keluarga The Ning King juga mengendalikan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), pengembang kawasan industri MM2100 di Cikarang Barat, dengan kepemilikan sekitar 64 persen. Portofolio industri dan propertinya menjadikannya salah satu figur bisnis berpengaruh dalam pembangunan kawasan permukiman dan industri nasional.
Perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Saat krisis Asia 1997–1998, ia terdampak utang dolar hingga harus menutup Bank Danahutama. Namun, ia melunasi kewajibannya kepada BPPN, memulihkan kredibilitasnya, dan kembali membawa Argo Manunggal Group bangkit.
Meski Bloomberg menaksir kekayaannya mencapai US$1,8 miliar dan Forbes sempat memasukkannya sebagai salah satu dari 50 orang terkaya Indonesia pada 2017 dengan kekayaan US$450 juta, The Ning King tetap menjauh dari sorotan publik.
Keluarga menyampaikan bahwa informasi lebih lanjut mengenai prosesi penghormatan dan memorial akan diumumkan kemudian. Bagi dunia usaha Indonesia, kepergian The Ning King meninggalkan teladan tentang kerja keras, kesederhanaan, dan komitmen panjang terhadap pembangunan bangsa.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!