Timbulkan Kemacetan Parah, Proyek Jembatan Laswi Rp 5,33 Miliar Disorot

ED
PN
Senin, 14 September 2026 | 07:38 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS — Proyek penggantian Jembatan Jalan Laswi di kawasan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, kembali menjadi perhatian pengguna jalan. Proyek infrastruktur yang akan menelan anggaran sekitar Rp5,33 miliar itu dikeluhkan karena berlangsung di jalur yang sejak lama dikenal padat, sementara durasi pekerjaannya akan mencapai 180 hari kalender.

Berdasarkan informasi proyek, paket pekerjaan penggantian jembatan tersebut memiliki nilai sekitar Rp5.332.766.232. Pelaksana atau pemenang tender disebutkan CV Az-Zahra Hasanah Abadi. 

Dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender, proyek ini setara dengan waktu pengerjaan sekitar enam bulan. Bagi masyarakat yang setiap hari menggunakan Jalan Laswi, durasi tersebut menjadi perhatian karena pekerjaan dilakukan di tengah jalur dengan arus kendaraan yang cukup tinggi.

Kondisi lalu lintas semakin terasa pada pagi dan sore hari, ketika kendaraan warga yang berangkat maupun pulang bekerja memenuhi ruas jalan tersebut. Sebelum proyek berlangsung pun, kawasan Laswi Jelekong sudah kerap mengalami kepadatan.

Kini, keberadaan pekerjaan konstruksi membuat ruang pergerakan kendaraan semakin terbatas. Pengendara harus bergantian melintasi area pekerjaan sehingga pada waktu tertentu antrean kendaraan dapat memanjang.

“Kalau pagi memang sudah biasa macet di sini. Sekarang ada proyek jembatan, jadi kalau lewat harus lebih sabar. Apalagi sore saat orang pulang kerja,” ujar seorang pengendara yang melintas di kawasan Jelekong, Senin (14/9/2026) pagi.

Pengendara lainnya mengaku tidak mempermasalahkan pembangunan jembatan selama pekerjaan tersebut memang dibutuhkan. Namun, ia berharap pelaksanaan proyek bisa dikebut dengan tetap memperhatikan kualitas konstruksi.

“Kalau jembatan memang harus diganti, tentu kami mendukung. Tapi kalau bisa jangan sampai enam bulan penuh kalau sebenarnya bisa dipercepat. Yang terdampak kan masyarakat yang lewat setiap hari,” katanya seraya menyebutkan masyarakat sekarang banyak yang mengerti mengenai pengerjaan proyek karena banyak pembanding di media sosial.

Keluhan serupa disampaikan warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi proyek. Menurutnya, kepadatan lalu lintas bukan hanya terjadi ketika aktivitas proyek berlangsung, tetapi juga dipengaruhi tingginya volume kendaraan yang melintasi kawasan tersebut.

“Ini jalur ramai. Dari dulu juga kalau jam sibuk sudah macet. Kalau ada pekerjaan seperti sekarang, otomatis makin terasa,” ujarnya.

Pekerjaan yang tercantum sebagai penggantian jembatan tersebut merupakan bagian dari infrastruktur jalan provinsi. Karena itu, warga berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan perhatian terhadap progres pembangunan.

Masyarakat bahkan berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dapat ikut memastikan proyek berjalan sesuai target. Bukan semata-mata untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga memastikan kualitas pembangunan dan pengaturan lalu lintas selama konstruksi tetap diperhatikan.

Harapan tersebut muncul karena enam bulan merupakan waktu yang cukup panjang bagi pengguna Jalan Laswi. Jika dihitung dari dimulainya pekerjaan, masyarakat harus berhadapan dengan dampak proyek selama berbulan-bulan sebelum jembatan baru dapat digunakan secara normal.

Di sisi lain, percepatan proyek tentu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kualitas. Pembangunan jembatan membutuhkan tahapan teknis yang harus dikerjakan sesuai spesifikasi dan standar keselamatan.

Karena itu, tuntutan warga pada dasarnya bukan sekadar “selesaikan secepatnya”, tetapi bagaimana pekerjaan dilakukan efektif, terukur, dan tidak mengalami keterlambatan.

Informasi pada papan proyek sebenarnya memiliki fungsi penting karena menjadi salah satu bentuk keterbukaan informasi kepada masyarakat. Warga dapat mengetahui nama pekerjaan, nilai anggaran, waktu pelaksanaan, serta pihak yang mengerjakan proyek.

Karena itu, apabila terdapat kesalahan pencantuman wilayah, perbaikan informasi pada papan proyek akan membantu menghindari kebingungan publik.

Jika menggunakan hitungan sederhana berdasarkan durasi 180 hari kalender, satu bulan pertama memang baru merupakan bagian awal dari keseluruhan masa pelaksanaan. Artinya, masyarakat masih harus menunggu beberapa bulan sebelum proyek dinyatakan selesai sesuai kontrak.

Hal inilah yang kemudian memunculkan komentar satir di media sosial.

“Jadi… masih sekitar 150 hari lagi,” tulis seorang netizen dengan emotikon sedih.

Komentar tersebut menggambarkan keresahan pengguna jalan yang harus melewati kawasan proyek hampir setiap hari. Bagi warga yang hanya sesekali melintas, enam bulan mungkin terasa biasa. Namun bagi pengendara yang melewati ruas tersebut setiap pagi dan sore, dampak proyek dirasakan berulang kali.

Netizen lainnya menyindir kondisi tersebut dengan gaya khas media sosial.

“Jembatan diperbaiki, kesabaran pengendara juga ikut diuji,” tulis seorang warganet.

Ada pula yang berkelakar bahwa proyek enam bulan bisa membuat pengendara hafal setiap sudut kawasan pekerjaan.

“Kalau selesai enam bulan, minimal kita semua sudah hafal progresnya dari hari ke hari,” komentar netizen lainnya.

Di balik candaan tersebut terdapat persoalan serius yang perlu menjadi perhatian pengelola proyek, yakni dampak pembangunan terhadap mobilitas masyarakat.

Jalan Laswi merupakan salah satu akses penting bagi masyarakat di wilayah Bandung Timur dan Bandung Selatan. Arus kendaraan dari kawasan seperti Ciparay, Majalaya, Pacet, Kertasari, Ibun, Paseh, hingga Cikancung turut menjadikan konektivitas jalur tersebut penting bagi aktivitas warga.

Karena itu, proyek jembatan tidak hanya berkaitan dengan bangunan fisik yang sedang diperbaiki. Pekerjaan tersebut juga bersinggungan langsung dengan aktivitas ekonomi, perjalanan menuju tempat kerja, distribusi barang, serta mobilitas masyarakat sehari-hari.

Dengan nilai pekerjaan mencapai Rp5,33 miliar, masyarakat tentu berharap hasil pembangunan nantinya memberikan manfaat sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan.

Sementara itu, pemerintah daerah dan instansi teknis terkait memiliki peran dalam melakukan pengawasan terhadap progres pekerjaan, kualitas konstruksi, keselamatan kerja, serta dampaknya terhadap lalu lintas.

Perlu dibedakan antara percepatan dan pengerjaan terburu-buru. Warga menginginkan proyek selesai secepat mungkin, tetapi tetap berkualitas dan aman digunakan dalam jangka panjang.

Pengaturan lalu lintas selama proyek juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Ketika volume kendaraan meningkat pada jam sibuk, rekayasa lalu lintas dan koordinasi petugas di lapangan diharapkan mampu mencegah antrean semakin panjang.

Pada akhirnya, keluhan warga bukan berarti menolak pembangunan. Sebaliknya, masyarakat membutuhkan jembatan yang lebih baik, tetapi juga membutuhkan kepastian bahwa proses menuju pembangunan tersebut tidak berlangsung lebih lama dari yang direncanakan.

Dengan target 180 hari kalender, perhatian publik kini tertuju pada progres pekerjaan penggantian Jembatan Jalan Laswi Jelekong. Masyarakat berharap proyek senilai Rp5,33 miliar tersebut benar-benar selesai sesuai target, tidak molor, kualitasnya terjamin, dan yang paling penting, segera mengembalikan kelancaran arus kendaraan di salah satu jalur yang sudah lama akrab dengan kemacetan tersebut.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.