Tiga Pemuda dengan Tiga Aksi Hijau
Dalam uji coba bersama empat siswa SMP di Tangerang, mereka berkeliling ke pasar, taman, dan museum menggunakan transportasi publik.
Selama perjalanan, para siswa menemukan berbagai masalah lingkungan, mulai dari udara kotor akibat kendaraan hingga truk yang tetap menyalakan mesin saat parkir.
Yang menarik, Alya membuat modul bernama City Bingo. Permainan ini mengajak peserta menandai objek yang ditemukan selama perjalanan dalam lembar bingo.
“Dalam eksperimen itu, peserta mendapat challenge untuk menemukan kendaraan listrik. Awalnya, mereka berpikir bahwa kendaraan ini merupakan solusi yang baik, karena tidak menyebabkan polusi udara. Tapi, kami lalu berdiskusi, bahwa bahan bakunya ternyata masih berasal dari fosil, sehingga polusi sebenarnya hanya berpindah tempat,” cerita Alya.
Cuaca yang berubah-ubah saat perjalanan menjadi catatan tersendiri bagi peserta. Siang sangat terik, sore hujan, lalu panas lagi. “Mereka mengindikasikan perubahan cuaca dalam satu hari sebagai akibat dari krisis iklim. Kondisi cuaca seperti ini, kata mereka, sering menyebabkan sakit dan merepotkan anak sekolah,” kata Alya.
Ndaru Luriadi
- Janji pernikahan juga janji untuk bumi
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan, pada 2024 sebanyak 50,8% dari total sampah nasional berasal dari rumah tangga. Inilah yang membuat Ndaru resah. Ia menyebutkan, di Depok saja dalam satu hari sampah yang diangkut ke TPA mencapai 1.000 ton. Artinya, lebih dari 500 ton merupakan sampah rumah tangga, termasuk sampah sisa makanan, plastik, dan bahan-bahan pembungkus bahan makanan lain.
Ndaru juga mencatat, jumlah perkawinan di Depok pada 2023 mencapai angka sekitar sembilan ribu. Ketika ada pernikahan, berarti akan muncul kerentanan timbulnya sampah-sampah rumah tangga baru.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!