Tiga Pemuda dengan Tiga Aksi Hijau

ED
Selasa, 11 November 2025 | 05:19 WIB
Bagikan
Tiga Pemuda dengan Tiga Aksi Hijau

“Seharusnya peran orang muda tidak berhenti ketika mereka menikah dan berkeluarga. Justru, di situlah titik penting untuk mengubah hal yang mungkin sering kita anggap sepele,” tutur Ndaru, yang punya banyak pengalaman di organisasi lingkungan dan kepemudaan.

Berangkat dari data soal jumlah sampah rumah tangga yang terus meningkat, Ndaru menggagas Sekolah Rumah Lestari. Ia menilai, isu sampah makanan bisa dihadapi dari akar terdalamnya, yakni keluarga. Program tersebut berperan sebagai wadah untuk membentuk keluarga yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang mengelola sampah. Ndaru memandang, pengantin baru berada di saat yang tepat untuk belajar cara hidup baru.

“Lebih jauh lagi, mereka bisa membentuk budaya positif di keluarga yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Harapannya, keluarga-keluarga muda itu akan membentuk jaringan, agar bisa melakukan aktivitas positif yang berdampak untuk lingkungan,” kata Ndaru.

Dengan begitu, pasangan muda tersebut akan menjadi penggerak di komunitas masyarakatnya. Dari penggerakan di komunitas tersebut diharapkan terjadi pergeseran budaya, misalnya belanja impulsif bergeser menjadi budaya positif untuk lebih melestarikan lingkungan dan berkelanjutan di ranah keluarga.

Anastasia Dinda Ciptaviana

  • Ngumpul tanpa jadi konsumtif

Setiap kali ada acara kumpul-kumpul, pasti ada sesi makan-makan. Pesan antar biasanya jadi solusi paling praktis. Itu berarti jumlah sampah akan bertambah, emisi karbon juga meningkat.

Dinda lalu merancang Nongkrong+. Baginya, proyek ini sangat personal. “Saya punya karakter introvert. Sewaktu kecil agak susah berteman. Kadang lebih pasif dalam pertemanan. Lewat Nongkrong+, orang muda bisa menjalin pertemanan sambil membahas isu konsumsi berlebihan atau mindless consumption dengan kegiatan yang seru dan santai,” cerita Dinda, yang punya latar belakang di bidang desain. .

Nongkrong yang dimaksud Dinda bukan hanya duduk sambil makan dan berdiskusi, melainkan lebih produktif. Salah satu yang pernah diadakan adalah Nongkrong+ Nukang. “Saat itu kami jadi sadar bahwa kami punya kemampuan, lho, meskipun nukangnya masih di level dasar. Tapi, ada hasilnya. Memproduksi sesuatu sendiri membuat kami jadi mampu mengapresiasi benda tersebut,” kata Dinda.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.