SOSOK | Tantan Sulthon, Dari Pangalengan untuk Jabar
"Kalau berhenti belajar, kita akan tertinggal oleh perubahan. Wartawan justru harus menjadi orang yang paling cepat belajar," katanya.
Prinsip tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan dunia media yang berlangsung sangat cepat akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Ia meyakini bahwa wartawan masa kini tidak cukup hanya menguasai teknik menulis, tetapi juga harus memahami teknologi, data, multimedia, serta perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.
Dibentuk oleh Buku dan Pemikiran Besar
Cara berpikir Tantan juga banyak dipengaruhi oleh berbagai bacaan yang menemani perjalanan intelektualnya.
Salah satu buku yang memberi pengaruh besar adalah Madilog karya Tan Malaka. Dari buku tersebut, ia belajar mengenai pentingnya berpikir logis, kritis, dan rasional dalam melihat persoalan.
Sementara karya-karya Buya Hamka memberinya pelajaran mengenai pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan akhlak.
Kemudian buku Last Call karya Elon Green mengingatkannya bahwa setiap peristiwa selalu memiliki sisi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan oleh seorang jurnalis.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!